by SH Susilowati · Cited by 133 — PEMBANGUNAN PERTANIAN Sri Hery Susilowati yang bermigrasi ke perkotaan. Jumlah tenaga kerja sektor pertanian investasi, tenaga kerja manual, dan.
21 pages

166 KB – 21 Pages

PAGE – 1 ============
FENOMENA PENUAAN PETANI DAN BERKURANGNYA TENAGA KERJA MUDA SERTA IMPLIKA SINYA BAGI KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PERTANIAN Sri Hery Susilowati 35 FENOMENA PENUAAN PETANI DAN BERKURANGNYA TENAGA KERJA MUDA SERTA IMPLIKASINYA BAGI KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PERTANIAN Farmers Aging Phenomenon and Reduction in Young Labor: Its Implication for Agricultural Development Sri Hery Susilowati* Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian Jln. A. Yani 70, Bogor 16161, Jawa Barat, Indonesia *Korespondensi penulis. E-mail: srihery@yahoo.com Naskah diterima: 24 Februari 2016 Direvisi: 6 April 2016 Disetujui terbit : 13 Juni 2016 ABSTRACT Qualified human resources with a good commitment to develop agricultural sector is one of th e determining factors toward sustainable agricultural development. However, agricultural development deals with significant issue especially reduction in the number of young farme rs. This paper aims to review structural changes from perspective of aging farmer and declined number of youn g farmers in Indonesia and other countries. Specificall y, this paper identifies various factors causing the changes and describes the policies needed to support young workers to enter agricultural sector. The method used in this paper is both descriptive analysis and cross tabulation. The results show that aging farmers and young fa rmers decline in Indonesia keep increasing. The phenomena are also found in other countries in Asia, Europe, Am erica and Australia. Various factors causing lack interest of young workers in agricultural sector, namely less prestigious, high risk, less assurance, unstable earning. Other factors are small size land holding, limite d non-agricultural diversification and agricultural processing activities in rural areas, slow farm management s uccession, and lack of incentive for young farmers. agricultural sector currently is interesting and promising. The government needs to development agricultural industry in rural areas, introduces technology innovation, offers special incenti ves for young farmers, modernizes agriculture, and conducts training and empowerment of young farmers. Keywords: aging farmer, young farme r, structural change, work force ABSTRAK Sumber daya manusia yang berkualitas dan memiliki kom itmen membangun sektor pertanian merupakan salah satu faktor keberhasilan pembangunan pertanian berk elanjutan. Namun, pembangunan pertanian menghadapi permasalahan cukup serius, yaitu jumlah pet ani muda terus mengalami penurunan, baik secara absolut maupun relatif, sementara petani usia tua semakin m eningkat. Tujuan makalah ini adalah melakukan review tentang perubahan struktural tenaga kerja pertanian dilih at dari fenomena aging farmer dan menurunnya jumlah tenaga kerja usia muda sektor pertanian di Indone sia dan di berbagai negara lainnya, mengidentifikasi berbagai faktor penyebab perubahan tersebut, serta kebijaka n yang diperlukan untuk mendukung tenaga kerja muda masuk ke sektor pertanian. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis deskriptif dan tabulasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa secara umum fenomena penu aan petani dan berkurangnya petani muda di Indonesia semakin meningkat. Kondisi seperti ini bukan hanya terjadi di Indonesia, namun juga di negara-negara lain di Asia, Eropa, dan Amerika. Berbagai faktor penyebab menurunnya minat tenaga ke rja muda di sektor pertanian, di antaranya citra sektor pertanian yang kurang b ergengsi, berisiko tinggi, kurang memberikan jaminan tingkat, stabilitas, dan kontinyuitas pendapatan; rata-rat a penguasaan lahan sempit; diversifikasi usaha nonpertanian dan industri pertanian di desa kurang/tidak be rkembang; suksesi pengelolaan usaha tani rendah; belum ada kebijakan insentif khusus untuk petani muda/p emula; dan berubahnya cara pandang pemuda di era postmodern seperti sekarang. Strategi yang perlu dilakukan untuk men arik minat pemuda bekerja di pertanian antara lain mengubah persepsi generasi muda bahwa sek tor pertanian merupakan sektor yang menarik dan menjanjikan apabila dikelola dengan tekun dan sungguh-sun gguh, pengembangan agroindustri, inovasi teknologi, pemberian insentif khusus kepada petani muda , pengembangan pertanian modern, pelatihan dan pemberdayaa n petani muda, serta memperkenalkan pertanian kepada generasi mu da sejak dini . Kata kunci: penuaan petani, petani muda , perubahan struktural, tenaga kerja pertanian

PAGE – 2 ============
Forum Penelitian Agro Ekonomi, Vol. 34 No. 1 , Juli 2016 : 35-55 36 PENDAHULUAN Sumber daya manusia pertanian mempunyai peran penting dalam membangun pertanian berkelanjutan. Rencana Strategis Kementerian Pertanian (Kementerian Pertanian 2015a ) memfokuskan pembangunan pertanian melalui konsep pembangunan pertanian berkelanjutan . Paradigma pembangunan pertanian berke- lanjutan pada hakekatnya adalah sistem pembangunan pertanian melalui pengelolaan secara optimal seluruh potensi sumber daya , baik sumber daya alam, sumber daya manusia, kelembagaan, dan teknologi, untuk menjaga agar suatu upaya terus berlangsung dan tidak mengalami kemerosotan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. Oleh karenanya, sumber daya manusia yang berkualitas dan memiliki komitmen membangun sektor pertanian merupakan salah satu faktor keberhasilan pembangunan pertanian berkelanjutan. Peran tenaga kerja pertanian Indonesia dalam penyerapan tenaga kerja nasional tidak terbantahkan memiliki kontribusi terbesar, sekitar 35,3% (Kementerian Pertanian 2015b), namun sampai saat ini masih terdapat permasalahan serius di bidang ketenagakerjaan pertanian. Permasalahan utama yaitu perubahan struktur demografi yang kurang menguntungkan bagi sektor pertanian, yaitu petani berusia tua (lebih dari 55 tahun) jumlahnya semakin meningkat, sementara tenaga kerja usia muda semakin berkurang. Fenomena semakin menuanya petani ( aging farmer) dan semakin menurunnya minat tenaga kerja muda di sektor pertanian tersebut menambah permasalahan klasik ketenaga- kerjaan pertanian selama ini, yaitu rendahnya rata-rata tingkat pendidikan dibandingkan dengan tenaga kerja di sektor lain. Berdasarkan hasil analisis terhadap data Sensus Pertanian 2003 2013, dapat disimpul- kan bahwa tenaga kerja pertanian didominasi tenaga kerja usia tua lebih dari 40 tahun, tenaga kerja usia muda jumlahnya tidak banyak dan cenderung merosot dibandingkan 10 tahun sebelumnya. Demikian pula berdasarkan data Sensus Pertanian 1993 2003 komposisi pekerja sektor pertanian berdasarkan usia telah mengalami pergeseran yang menunjukkan semakin berkurangnya tenaga kerja muda di sektor pertanian. Data tersebut menunjukkan bahwa selama dua dekade, secara absolut dan relatif, jumlah petani muda mengalami penurunan relatif tajam, sementara yang tergolong usia tua semakin meningkat. Di sisi lain, pemuda yang bekerja di sektor nonpertanian juga meningkat dari waktu ke waktu. Jumlah petani usia tua yang dominan dan minat generasi muda bekerja di sektor pertanian yang merosot ternyata juga dialami oleh negara-negara lainnya, bukan hanya negara-negara di Asia yang memiliki keterbatasan lahan, namun juga di negara- negara Eropa dan Kanada (Murphy 2012; European Commission 2012 ; Wang 2014; Uchiyama 2014). Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa di wilayah perdesaan petani umumnya adalah orang-orang desa yang berusia di atas 50 tahun, yang saat ini kebingungan memikirkan bagaimana keberlanjutan usaha tani mereka, karena nyaris tidak ada anak-anaknya yang mau meneruskan pekerjaan yang sudah mereka tekuni dan warisi dari generasi ke generasi. Ironisnya pula, sebagian besar orang tua di perdesaan juga tidak menginginkan anak-anak mereka bekerja di desa sebagai petani sebagaimana pekerjaan mereka saat ini. Hasil kajian BI (2014 ) menyatakan hasil dari suatu survei di Cina, dari seluruh contoh survei, tidak ada satu pun orang tua sebagai petani yang mengharapkan anaknya menjadi petani seperti mereka. Ditambahkan pula tenaga kerja yang bermigrasi ke kota sebagian besar adalah pemuda, dan sekitar 84,5% belum pernah terlibat kegiatan di sektor pertanian, serta sekitar 93,6% berniat tinggal di kota. Berbagai alasan penyebab menurunnya minat tenaga kerja muda di sektor pertanian terutama adalah citra sektor pertanian yang kurang bergengsi dan kurang bisa memberikan imbalan memadai. Hal ini berpangkal dari relatif sempitnya rata-rata penguasaan lahan usaha tani. Alasan lain adalah cara pandang dan way of life tenaga kerja muda telah berubah di era perkembangan masyarakat postmodern seperti sekarang. Bagi anak-anak muda di perdesaan, sektor pertanian makin kehilangan daya tarik. Bukan sekedar karena secara ekonomi sektor pertanian makin tidak menjanjikan, tetapi keengganan anak-anak muda untuk bertani sesungguhnya juga dipengaruhi oleh subkultur baru yang berkembang di era digital seperti sekarang. Krisis petani muda di sektor pertanian dan dominannya petani tua memiliki konsekuensi terhadap pembangunan sektor pertanian berkelanjutan, khususnya terhadap produktivitas pertanian, daya saing pasar, kapasitas ekonomi perdesaan, dan lebih lanjut hal itu akan mengancam ketahanan pangan serta keberlanjutan sektor pertanian. Berdasarkan latar belakang tersebut, makalah ini menyajikan review dari berbagai

PAGE – 3 ============
FENOMENA PENUAAN PETANI DAN BERKURANGNYA TENAGA KERJA MUDA SERTA IMPLIKA SINYA BAGI KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PERTANIAN Sri Hery Susilowati 37 hasil kajian yang terkait dengan topik bahasan. Makalah bertujuan untuk melakukan review tentang perubahan struktural tenaga kerja pertanian dilihat dari fenomena aging farmer dan menurunnya jumlah tenaga kerja usia muda sektor pertanian di Indonesia dan berbagai negara lainnya, mengidentifikasi berbagai faktor penyebab perubahan struktural tersebut, faktor- faktor keengganan tenaga kerja usia muda masuk ke sektor pertanian, serta kebijakan yang diperlukan untuk mendukung tenaga kerja muda masuk ke sektor pertanian. PERUBAHAN STRUKTUR TENAGA KERJA PERTANIAN BERDASARKAN UMUR Batasan Umur Petani Muda Definisi dan batasan umur seseorang disebut sebagai pemuda bervariasi menurut beberapa sumber. Pemuda adalah sosok individu yang berusia produktif yang bila dilihat secara fisik dan psikis sedang mengalami perkembangan. Pemuda umumnya mempunyai karakter spesifik yang dinamis, optimis, dan berpikiran maju. Pemuda merupakan sumber daya manusia pembangunan baik saat ini maupun masa datang, sebagai calon generasi penerus yang akan menggantikan generasi sebelumnya. Menurut United Nation Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), best understood as a period of transition from independence and awareness of our (UNESCO c2016a) . Menurut batasan umur, secara internasional, WHO menyebut young people dengan batas usia 10 24 tahun, sedangkan usia 10 19 tahun disebut adolescence atau remaja. Namun, belum lama ini WHO telah menetapkan kriteria baru yang membagi kehidupan manusia ke dalam lima kelompok usia: 0 17 tahun disebut sebagai an ak-anak di bawah umur; 18 65 tahun sebagai pemuda; 66 79 tahun sebagai setengah baya; 80 99 tahun sebagai orang tua; dan 100 tahun ke atas adalah orang tua berusia panjang (Erabaru 2015). UNESCO dan International Youth Year yang diselenggarakan tahun 1985, mendefinisikan penduduk berusia 1524 tahun sebagai kelompok pemuda. Jika UNESCO menetapkan usia pemuda adalah 15 24 tahun, the African Youth Charter , mendefinisikan pemuda adalah mereka yang berusia antara 15 35 tahun. Batasan ini disesuaikan dengan konteks benua Afrika serta realitas pembangunan di benua tersebut (UNESCO c2016b). Dari uraian tersebut, ada beberapa batasan umur pemuda yang berbeda tergantung dari kepentingan dan pertimbangan masing-masing negara atau lembaga dalam menetapkan batasan umur pemuda. Di Indonesia, batasan pemuda disebutkan oleh Indonesian Youth Employment Network berada dalam kelompok usia 15 29 tahun (ILO 2007), sedangkan UU Nomor 40 Tahun 2009 pasal 1 ayat (1) tentang Kepemudaan menya- takan pemuda adalah yang memasuki periode penting pertumbuhan dan perkembangan, berusia 16 sampai 30 tahun. Karakteristik yang menandai anak-anak muda, secara garis besar, adalah an ak-anak muda berada pada tahap perkembangan, yang mana sikap dan nilai- nilainya sedang pada tahap pembentukan dalam mengambil ideologi-ideologi tertentu. D i beberapa negara, batasan umur tenaga kerja disebut sebagai tenaga kerja/petani muda (young farmer ) menjadi penting untuk menentukan seseorang eligible (berhak) memperoleh insentif dalam melakukan atau memulai bisnis di sektor pertanian. Beberapa negara memiliki kebijakan insentif untuk menarik tenaga kerja muda ke sektor pertanian. Kriteria batas seseorang disebut sebagai pemuda pada kenyataannya berbeda menurut negara dan keperluan. Di Indonesia, batasan umur tenaga kerja yang bekerja atau mulai bekerja di sektor pertanian tidak secara ketat diatur karena tidak mempunyai implikasi apapun yang berkaitan dengan fasilitas atau insentif pemerintah untuk petani muda. Dalam konteks keterlibatan tenaga kerja muda di sektor pertanian, beberapa negara menggunakan batasan umur yang bervariasi, dikaitkan dengan insentif yang berhak diterima oleh pemuda tani yang berusaha di pertanian atau pemuda yang akan mengawali bisnis pertanian. Beberapa kajian tentang pemuda tani menggunakan batasan umur yang berbeda. Studi oleh Katchova dan Ahearn (2014) tentang implikasi pemilikan dan sewa lahan bagi pemuda tani dan petani pemula ( beginner farmer) di Amerika Serikat, menggunakan batasan umur 35 tahun untuk petani muda . Davis et al. (2013) menggunakan batas umur 35 tahun untuk disebut sebagai petani muda . Pemerintah Australia mengunakan batasan umur 40 tahun sebagai pemuda tani yang berhak memperoleh skim finansial ( financial scheme ) (Murphy 2012).

PAGE – 4 ============
Forum Penelitian Agro Ekonomi, Vol. 34 No. 1 , Juli 2016 : 35-55 38 Fenomena Penuaan Petani Pada tataran global, isu penuaan petani kurang mendapat perhatian dibandingkan dengan isu-isu lain, misalnya isu penurunan produksi akibat perubahan ik lim, padahal masalah penuaan petani merupakan tantangan demografi serius yang perlu mendapat perhatian karena menyangkut keberlanjutan sektor pertanian. Peningkatan jumlah petani berusia tua lebih dari 60 tahun, sebaliknya semakin berkurangnya petani muda, terjadi di hampir seluruh belahan dunia. Perubahan struktural demografi ketenagakerjaan sektor pertanian juga terjadi di negara-negara Asia, Eropa, maupun benua Amerika, Kanada, dan negara- negara di bagian benua lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa menurunnya minat tenaga kerja pertanian sudah menjadi fenomena umum yang perlu mendapat perhatian secara serius dari pengambil kebijakan dalam rangka menyelamatkan sektor pertanian. Gambaran perubahan struktural demografi tenaga kerja di sektor pertanian yang diuraikan di bawah memperkuat fenomena umum yang mengarah pada semakin menuanya petani dan berkurangnya tenaga kerja muda di sektor pertanian. Isu penuaan petani dan keragaannya di beberapa negara perlu dikaji dalam rangka mencari alternatif kebijakan guna mendorong tenaga kerja muda masuk ke sektor pertanian, terutama pada era perdagangan bebas dewasa ini. Berikut ulasan fenomena penuaan petani di Indonesia dan di beberapa negara lainnya. Indonesia Sudah menjadi fenomena umum bahwasanya perubahan struktural demografi ketenagakerjaan sektor pertanian di Indonesia mengarah pada fenomena penuaan petani. Perubahan tersebut terjadi dari periode ke periode secara konsisten. Hasil analisis Susilowati (2014) terhadap data Sensus Pertanian 2013, proporsi petani dengan umur lebih 40 54 tahun adalah yang terbesar, yaitu 41% (Gambar 1). Proporsi terbesar kedua adalah kelompok usia lebih dari 55 tahun yang dapat digolongkan sebagai petani tua, yaitu 27%, sedangkan kelompok generasi muda dengan usia kurang 35 tahun hanya 11% . Sensus Pertanian 2003 juga menunjukkan sebagian besar petani berada pada golongan umur 25 44 tahun sebesar 44,7%, kemudian menyusul golongan umur 45 60 sebesar 23,2% , proporsi tenaga kerja golongan usia lanjut (>60 tahun) sekitar 13,8%, dan terendah adalah golongan muda (<24 tahun) hanya 9,2% . Hasil analisis yang sama juga dinyatakan oleh Supriyati (2010). Sayangnya, dalam penyajian data struktur tenaga kerja menurut umur dari Sensus Pertanian BPS tidak dilakukan pengelompokan petani menurut umur secara konsisten antarsensus, sehingga perubahannya tidak bisa diperbandingkan. Namun demikian, perkem- bangan data antarsensus tersebut menunjukkan bahwa telah terjadi perubahan struktural sepanjang satu dasawarsa sebelumnya, yakni tenaga kerja muda semakin berkurang, sebaliknya tenaga kerja tua semakin bertambah. Hasil analisis Malian et al. (2004) terhadap struktur tenaga kerja pertanian selama dua dasawarsa sebelumnya lebih memperkuat kesimpulan bahwa perubahan struktural tenaga kerja pertanian menurut umur telah terjadi sejak lebih dua dasawarsa sebelumnya. Selama kurun waktu 1983 2003 komposisi pekerja sektor pertanian berdasarkan usia telah mengalami pergeseran yang mengarah kepada dominasi petani tua dan menurunnya proporsi petani muda di sektor pertanian. Hal yang sama dikemukakan oleh Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Perta- Sumber: Susilowati (2014) Gambar 1. Komposisi petani Indonesia menurut umur, 2003 dan 2013 PAGE - 5 ============ FENOMENA PENUAAN PETANI DAN BERKURANGNYA TENAGA KERJA MUDA SERTA IMPLIKA SINYA BAGI KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PERTANIAN Sri Hery Susilowati 39 nian (BPPSDMP 201 6a), bahwa jumlah tenaga kerja di perdesaan mengalami penurunan. Hal ini diduga karena meningkatnya tenaga kerja yang bermigrasi ke perkotaan. Jumlah tenaga kerja sektor pertanian kelompok umur 25 54 tahun mengalami penurunan dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2014, yang meng- indikasikan minat generasi muda terhadap sektor pertanian mengalami penurunan (Gambar 2). Tenaga kerja sektor pertanian didominasi oleh tingkat pendidikan SD ke bawah, yaitu sebanyak 64%. Hal ini merupakan salah satu penyebab rendahnya produktivitas tenaga kerja pertanian (Gambar 3). Berdasarkan hasil analisis data dengan unit observasi rumah tangga di tingkat mikro oleh Sumaryanto et al. (2015), diketahui bahwa fenomena penuaan petani telah terjadi di semua tipe agroekosistem. Secara keselu- ruhan lebih dari 70% petani berusia 40 tahun ke atas, bahkan yang usianya di atas 50 tahun lebih dari 40% . Perkembangan ketenagakerjaan pertanian seperti diuraikan di atas memperkuat fenomena tenaga kerja muda perdesaan cenderung tidak memilih pertanian sebagai pekerjaan mereka. Mereka cenderung pergi ke kota untuk mencari pekerjaan di sektor lain. Keputusan tenaga kerja muda tersebut terutama karena adanya faktor pendorong, di antaranya lahan pertanian yang semakin sempit dan tidak ekonomis untuk diusahakan. Dari sisi pandang ekonomi, keputusan tenaga kerja muda perdesaan untuk mencari pekerjaan di luar sektor pertanian adalah rasional, mengingat sektor pertanian dipandang tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup. Tenaga kerja muda yang baru memulai usaha di sektor pertanian memiliki kemampuan finansial yang terbatas untuk memiliki lahan luas, kecuali mereka memperoleh warisan atau mengerjakan milik orang tua. Dengan luasan penguasaan lahan kurang dari 0,25 ha, sangat tidak menarik bagi petani muda untuk memulai berbisnis di pertanian yang berbasis lahan atau usaha tani konvensional (misalnya usaha tani tanaman pangan). Hasil analisis Lokollo et al. (2007) terhadap data Sensus Pertanian 1983 dan 1993 menunjukkan penurunan jumlah petani berusia kurang dari 35 tahun, yang sebagian besar penguasaan lahannya hanya sekitar 0,25 ha. Jika dilakukan disagregasi menurut subsektor, akan nampak ke subsektor apa minat tenaga kerja muda yang masih terlibat di sektor pertanian. Masih dari hasil analisis Lokollo et al. (2007), tenaga kerja muda yang berusaha di sektor pertanian dominan berada di subsektor hortikultura, dan berikutnya adalah subsektor pangan. Relatif tingginya minat tenaga kerja muda di subsektor hortikultura sangat beralasan mengingat komoditas-komoditas subsektor hortikultura adalah high value commodities yang dapat menghasilkan nilai pendapatan lebih tinggi Sumber: BPPSD MP (201 6a) Gambar 2. Perkembangan tenaga kerja pertanian tingkat nasional menurut kelompok umur, 2010 2014 PAGE - 6 ============ Forum Penelitian Agro Ekonomi, Vol. 34 No. 1 , Juli 2016 : 35-55 40 dengan luasan lahan relatif sempit dibandingkan dengan komoditas subsektor tanaman pangan. Dengan mengetahui peta seperti tersebut, akan berguna dalam membangun program-program pemberdayaan tenaga kerja muda ke sektor pertanian, yang seyogianya diarahkan pada aktivitas-aktivitas yang digemari oleh tenaga kerja muda. Menurunnya persentase tenaga kerja muda, sebaliknya meningkatnya persentase tenaga kerja usia tua, secara implisit juga menunjukkan bahwa ada mismatch antara jenis kesempatan kerja yang diinginkan oleh tenaga kerja muda di perdesaan dengan kesempatan kerja yang tersedia. Ketidak- cocokan keterampilan diterjemahkan sebagai tenaga kerja dengan tingkat pendidikan atau keterampilan yang terlalu tinggi atau terlalu rendah dari apa yang dibutuhkan oleh pekerjaan tertentu. Kaitannya dengan kualitas pendidikan tenaga kerja muda di sektor pertanian, semakin tinggi pendidikan tenaga kerja muda di perdesaan, maka mereka akan semakin selektif dalam memanfaatkan kesempatan kerja di perdesaan. Sepanjang sektor pertanian belum mampu menumbuhkan image bahwa pekerjaan di sektor pertanian juga dapat memberikan kebanggaan dan prospek pendapatan yang baik, maka semakin membaiknya tingkat pendidikan tenaga kerja muda tidak akan berpengaruh banyak bagi kualitas tenaga kerja pertanian. Sektor pertanian akan tetap ditinggalkan oleh tenaga kerja muda yang berpendidikan tinggi. Pengurangan serapan tenaga kerja pertanian memang merupakan proses yang dikehendaki dalam menghadapi perubahan struktur ekonomi nasional menuju industrialisasi. Dengan pengurangan penye- rapan tenaga kerja pertanian, maka beban sektor pertanian yang selama ini berperan sebagai bumper nasional untuk penyerapan tenaga kerja juga akan berkurang. Dengan demikian, diharapkan akan meningkatkan produktivitas pertanian. Namun, apa yang terjadi jika tenaga kerja yang keluar justru tenaga kerja usia muda berpendidikan tinggi dan berkualitas, sementara tenaga kerja yang tersisa di pertanian lebih banyak tenaga kerja tua dengan produktivitas kerja yang mulai menurun? Padahal, menurut hasil kajian Hukom (2014), ada hubungan secara nyata antara perubahan struktur penyerapan tenaga kerja dengan kesejahteraan masyarakat. Peningkatan partisipasi angkatan kerja , khususnya tenaga kerja produktif dan berkualitas, akan menyebabkan produktivitas tenaga kerja meningkat dan selanjutnya pendapatan per kapita masyarakat menjadi meningkat. Amerika Serikat Di Amerika Serikat, berdasarkan data statistik Sensus Pertanian Amerika Serikat, hasil analisis Katchova dan Ahearn (2014) menyatakan populasi petani di Amerika Serikat mengalami penuaan. Rata-rata umur petani meningkat rata-rata setahun pada setiap sensus ke sensus berikutnya, yaitu dari 50,3 tahun di tahun 1978 meningkat menjadi 54 tahun pada Sumber: BPPSD MP (201 6a) Gambar 3. Persentase tenaga kerja pertanian (petani) menurut pendidikan, Agustus 2014 PAGE - 8 ============ Forum Penelitian Agro Ekonomi, Vol. 34 No. 1 , Juli 2016 : 35-55 42 maju, juga mengalami fenomena seperti yang terjadi di negara-negara berkembang, yaitu petani cenderung didominasi oleh petani tua. Petani muda yang akan masuk dan memulai bisnis di sektor pertanian menghadapi tantangan yang tidak mudah, yaitu terbentur masalah permodalan. Perusahaan pertanian yang dikelola oleh petani muda seringkali dicirikan dengan terbatasnya modal sehingga harus menghadapi pasar kredit dengan persyaratan jaminan dan bunga yang lebih tinggi dibandingkan dengan petani yang sudah berpengalaman bertani. Hal ini berimplikasi pada kebijakan pemerintah dalam memberikan dukungan terhadap petani pemula ( farm bill policy ), hendaknya lebih difokuskan kepada petani muda yang diharapkan lebih banyak berkontribusi terhadap peningkatan produksi pertanian daripada petani pemula berumur tua yang memulai usaha di sektor pertanian lebih untuk tujuan investasi. Lebih lanjut, menurunnya minat generasi muda terhadap sektor pertanian juga diungkapkan oleh FarmLast Project (2010). Hanya dalam periode sepuluh tahun (1997 2007) persentase petani muda menurun hampir 3%, yaitu dari 8,1% menjadi hanya 5,4%, dan dewasa ini petani yang berumur lebih 75 tahun jumlahnya dua kali lipat dibandingkan petani muda kurang dari 35 tahun. Konsekuensinya, penguasaan lahan juga terkonsentrasi pada petani tua. Data bersumber dari USDA NASS, 1988 dan USDA NASS, 1999 yang dianalisis oleh FarmLast Project (2010) menunjukkan bahwa di Amerika Serikat secara keseluruhan, lebih dari 60% penguasaan lahan oleh petani tua (lebih dari 60 tahun) dan 40% oleh petani berumur lebih dari 70 tahun pada tahun 2007. Kajian Duffy dan Smith (2004) juga menyimpulkan di Iowa tahun 1982 sebanyak 29% pemilik lahan berusia 65 tahun. Dua puluh tahun kemudian (2002) pemilik lahan berusia lebih 65 tahun sebanyak 55%. Artinya, selama dua dasawarsa jumlah pemilik lahan berusia tua lebih dari 65 tahun meningkat hampir dua kali lipat. Kondisi ini tentunya sangat mengkhawatirkan bagi kelangsungan sektor pertanian ke depan. Beberapa hasil kajian seperti yang diuraikan di atas memperjelas telah terjadi perubahan struktur ketenagakerjaan berdasarkan umur dan hal itu berkaitan dengan penguasaan aset lahan, yang dapat disarikan di antaranya sebagai berikut: (1) keterlibatan tenaga kerja muda di sektor pertanian semakin menurun selama kurun waktu satu atau dua dasawarsa, bahkan penurunan keterlibatan sudah terjadi sejak sebelum era tersebut; (2) petani pemilik lahan yang berusia muda di bawah 34 tahun secara jumlah maupun persentase relatif kecil dan perkembangannya cenderung menurun secara nyata; (3) petani tua pemilik lahan berumur lebih dari 60 tahun secara jumlah maupun persentase sangat besar, bahkan petani tua berusia lebih dari 70 tahun jumlahnya paling dominan. Data-data tersebut secara jelas sebagai bukti bahwa keterlibatan tenaga kerja muda di sektor pertanian jumlahnya sangat kecil dan cenderung semakin berkurang, di sisi lain fenomena aging farmer terjadi secara nyata. Australia Di Australia, struktur petani menurut umur menunjukkan kondisi yang tidak jauh berbeda dengan di Amerika, di mana populasi petani didominasi oleh petani berumur lebih 65 tahun. Data dari NFF Farm Fact (2012) yang dikutip oleh Murphy (2012) menunjukkan jumlah petani muda yang berumur kurang dari 30 tahun relatif sedikit dan jumlah populasi petani semakin banyak dengan meningkatnya umur petani menurut kelompok umur. Pada tahun 2012, jumlah petani berumur lebih 65 tahun sebanyak lebih dari 30 ribu orang, sementara petani muda berumur 30 34 tahun kurang dari 15 ribu. Rataan umur petani menunjukkan pertambahan dengan bertambahnya waktu. Pada tiga dekade sebelumnya, rataan umur petani berkisar 43 44 tahun, dan meningkat menjadi 5052 tahun pada tahun 2011. Sektor pertanian diharapkan berkembang lebih efisien dan inovatif, namun dengan kenyataan semakin menuanya rataan umur petani sementara jumlah petani muda yang akan menjadi generasi penerus relatif sedikit, akan menjadi masalah mengingat aset yang dikuasai petani tua akan ditransfer ke generasi penerus. Jepang Di Jepang, salah satu masalah yang serius di sektor pertanian juga sama dengan di negara- negara lain, yaitu kurangnya jumlah pengusaha pertanian (Yaganimura 2014). Hal ini berhubungan dengan menurunnya jumlah tenaga kerja di sektor pertanian. Menurut Uchiyama (2014), jumlah rumah tangga petani menurun 58% sejak tahun 1960 ke 2010, dan proporsi petani terhadap total populasi juga mengalami penurunan dari 36,2% menjadi hanya 5,4% (Tabel 2). Sumber pendapatan rumah tangga petani terutama dari sektor nonpertanian, di mana rumah tangga yang hanya bersumber pendapatan dari pertanian semata turun dari PAGE - 9 ============ FENOMENA PENUAAN PETANI DAN BERKURANGNYA TENAGA KERJA MUDA SERTA IMPLIKA SINYA BAGI KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PERTANIAN Sri Hery Susilowati 43 34% menjadi 17% . Hal ini berimplikasi terhadap jumlah tenaga kerja pertanian yang juga mengalami penurunan dari 14 juta tahun 1960 menjadi hanya 2,6 juta tahun 2010 (Gambar 4). Menurunnya jumlah tenaga kerja pertanian semakin memburuk dikaitkan dengan sebaran umur tenaga kerja yang cenderung semakin menua. Fenomena aging farmer berjalan cepat sehingga data tahun 2010 menunjukkan sekitar 61,6% tenaga kerja berumur lebih dari 65 tahun. Selama empat dasawarsa proporsi petani tua lebih dari 65 tahun bertambah menjadi 43,8% dari semula 17,8% tahun 1970 . Fenomena aging farmer di Jepang tersebut ternyata tidak berbeda jauh dengan fenomena yang terjadi di Australia dan Amerika Serikat. Keengganan tenaga kerja muda masuk ke sektor pertanian menurut Uchiyama (2014) terutama karena rata-rata luas lahan pertanian yang relatif kecil dan cenderung menurun dari waktu ke waktu , meskipun sampai tahun 2010 rata-rata pemilikan lahan sekitar 2 hektare, jauh lebih besar dari rata-rata pemilikan lahan pertanian di Indonesia. Dengan semakin banyaknya petani yang keluar dari pertanian, maka lahan-lahan pertanian di Jepang banyak yang tidak diusahakan (atau disebut sebagai "weed paradise"). Menurut Japan's Ministry of Land, Infrastructure, Transport and Tourism (JMLIT) dalam Uchiyama (2014), pada tahun 2007 sebanyak 386 ribu hektare lahan pertanian telah ditelantarkan dan diramalkan sebanyak 412 pemukiman di perdesaan akan musnah dalam 10 tahun mendatang serta 2.219 lainnya bisa jadi akan musnah pula dalam 10 tahun berikutnya . Dengan latar belakang kondisi tersebut, jumlah tenaga kerja pertanian di Jepang secara keseluruhan menurun tajam dan tenaga kerja pertanian didominasi oleh petani tua. Petani yang baru memulai atau masuk ke pertanian (new entry farm ) sebagian besar adalah tenaga kerja tua, sangat sedikit tenaga kerja muda (39 tahun atau lebih muda). Mereka diistilahkan sebagai "kembali ke pertanian ( back to home farms)" setelah masa muda mereka digunakan untuk bekerja di sektor nonpertanian (industri). Tabel 2. Perkembangan populasi petani di Jepang, 1960 2010 Uraian 1960 1970 1980 1990 2000 2010 Populasi petani (juta) 34 27 21 17 10 7 Proporsi petani terhadap total populasi (%) 36,2 25,7 17,9 13,7 7,9 5,4 Rumah tangga petani (ribu) 6.057 5.342 4.661 3.835 3.120 2.528 Tenaga kerja pertanian (000) 14.542 10.252 6.973 4.819 3.891 2.606 Luas lahan pertanian ( 000 ha) 6.071 5.796 5.461 5.243 4.830 4.593 Sumber: Uchiyama (2014) Sumber: Uchiyama (2014) Gambar 4. Perkembangan proporsi tenaga kerja pertanian berumur 65 tahun lebih di Jepang, 1970 2010 PAGE - 10 ============ Forum Penelitian Agro Ekonomi, Vol. 34 No. 1 , Juli 2016 : 35-55 44 Uni Eropa Di negara-negara Uni Eropa, fenomena aging farmer juga terjadi bahkan persentase petani muda 35 tahun atau kurang jauh lebih sedikit dibandingkan kondisi di Indonesia dan Amerika serta Australia. Struktur tenaga kerja pertanian telah bergeser ke dominasi tenaga kerja tua umur lebih dari 55 tahun. Data bersumber dari European Comission (2012) yang dianalisis oleh Wang (2014) menunjukkan bahwa persentase petani berusia di bawah 35 tahun pada tahun 2007 hanya berada pada kisaran 2,2% (negara Portugal) sampai 12,2% (negara Polandia). Tiga tahun berikutnya, perkembangan menunjukkan variasi antar- negara, ada yang meningkat atau menurun. Portugal meningkat menjadi 2,6% dan Polandia juga meningkat menjadi 14,7%. Namun, negara- negara lain, seperti Belgia, Denmark, Jerman, Belanda, dan beberapa negara lain mengalami penurunan, dan persentasenya tetap relatif kecil. Jika dilihat secara rata-rata negara Uni Eropa secara keseluruhan, persentase petani muda sebesar 6,3% pada tahun 2007 naik menjadi 7,5% tahun 2010. Petani tua lebih dari 55 tahun secara rataan sebesar 55,5% pada tahun 2007, turun menjadi 53,1% pada tahun 2010. Tabel 3 secara lebih rinci membuktikan bahwa negara-negara Uni Eropa juga mengalami fenomena aging farmer dan keengganan tenaga kerja muda bekerja di sektor pertanian. Berdasarkan ilustrasi tersebut dapat disimpulkan bahwa tantangan utama yang dihadapi oleh rumah tangga pertanian dalam lingkup sempit, dan sektor pertanian pada lingkup yang lebih luas adalah struktur demografi rumah tangga petani menghadapi penuaan petani secara serius. Lebih dari 97% petani di Uni Eropa tergolong petani kecil, semisubsisten, dengan tenaga kerja sebagian besar berasal dari dalam keluarga. Rendahnya partisipasi tenaga kerja muda di sektor pertanian di negara-negara yang tergabung dalam Uni Eropa, salah satunya karena kesamaan bahwa sektor pertanian bukan pendukung utama GDP nasional. GDP sektor pertanian di negara Uni Eropa pada tahun 2001 mengalami penurunan bahkan sampai negatif dibanding tahun 2000, kecuali Denmark yang tumbuh 1,3% dan Jerman tumbuh 1,1% (Devie 2003). Mengingat pembaruan generasi merupakan hal yang sangat penting bagi kelanjutan pertanian, maka kebijakan struktural harus lebih banyak mengarah pada upaya "mengurangi petani tua" dengan cara yang layak. Demikian pula diperlukan kebijakan untuk menarik petani muda masuk ke sektor pertanian sehingga sektor pertanian menjadi kompetiti f dan produktif dalam jangka panjang. Thailand Di Thailand, jumlah petani menurun secara konsisten selama tiga dasawarsa terakhi r. Pada tahun 1980 jumlah petani sebanyak 65,65% dari total tenaga kerja, menjadi 44,28% di tahun 2000. Tahun 1990 sebanyak 19 juta orang petani (63,4% dari total tenaga kerja), namun tahun 2011 hanya tersisa 16,1 juta orang. Petani yang keluar dari sektor pertanian pada umumnya beralih pekerjaan ke sektor jasa dan industri, yang ditunjukkan dengan peningkatan tenaga kerja di sektor jasa dari 22,48% menjadi 35,81% . Tabel 3. Persentase petani menurut umur di beberapa n egara-negara Uni Eropa, 2007 dan 2010 No. Negara 2007 (%) 2010 (%) Arah perubahan Petani <35 Petani >55 Petani <35 Petani >55 Petani <35 Petani >55 1. Belg ia 6,1 43,2 4,8 44,4 Turun Naik 2. Denmark 5,9 43,5 4,8 43,4 Turun Naik 3. Jerman 7,7 30,1 7,1 31,8 Turun Naik 4. Belanda 3,9 43,7 3,6 44,4 Turun Naik 5. Austria 11,0 26,0 10,7 26,2 Turun Naik 6. Poland ia 12,2 35,1 14,7 28,5 Naik Turun 7. Portugal 2,2 72,1 2,6 71,4 Naik Turun 8. Swedia 6,0 49,9 4,8 54,3 Turun Naik 9. Inggris 3,9 56,1 4,0 56,1 Naik Tetap 10. Rataan UE- 27 6,3 55,5 7,5 53,1 Naik Turun Sumber: Wang (2014)

166 KB – 21 Pages