by M Mulyono — Filsafat Abad Pertengahan pada dasarnya berisikan penyatuan filsafat dan teologi karena filsafat mendasarkan diri pada ajaran Kristen, di mana pemikiran
38 pages

58 KB – 38 Pages

PAGE – 1 ============
Modul 1 Latar Belakang Pemikiran Modern Drs. Mulyono, M.Hum . etelah mempelajari materi ini, Anda diharapkan mampu memahami pemikiran – pemikiran yang mendahului dan membentuk pemikiran modern. Dengan m emahami pemikiran – pemikiran pra – modern dih arapkan Anda akan mudah mencerna dan mem ahami pemikiran – pemikiran pada z aman modern, sebab setiap pemikiran filosofis sejatinya merupakan kontinuitas dari pemikiran – pemikiran sebelumnya. Modul 1 terdiri dari 3 k egiatan belajar. Kegiatan Belajar 1 menjelaskan awal munculnya pemikiran – pemikiran para filsuf sebagai reaksi terhadap mitologi. Awal munculnya pemikiran para filsuf menjadi cermin dari ketidakpuasan terhadap kebudayaan manusia pada saat itu di mana manusi a punya akal pikiran , namun dalam kehidupan sehari – hari dibelenggu oleh mitos. Masa awal munculnya kebebasan manusia dalam menggunakan pikirannya untuk mencari kebenaran dan menjawab semua problem yang dihadapi manusia, dimasukkan pada tahap Yunani Kuno. K egiatan Belajar 2 menjelaskan bahwa karena adanya perubahan sistem sosial – politik yang ada pada saat itu maka kebebasan pemikiran para filsuf mulai dibatasi oleh dogma (agama) yang diyakini sebagai sumber kekuasaan dan kebenaran. Semua pemikiran yang berke mbang saat itu tidak boleh bertentangan dengan agama, bahkan kalau bisa harus memperkuat kebenaran agama. Tahap pemikiran ini dimasukkan ke periode masa Abad Tengah. Kegiatan Belajar 3 menjelaskan munculnya gerakan yang memberi reaksi terhadap dogmatisme A bad Tengah. Gerakan kultural ini mendambakan lahirnya kembali kebudayaan Yunani kuno, di mana manusia memperoleh kebebasan berpikir dalam menemukan kebenaran tanpa dibatasi dan dibelenggu oleh dogma agama. Gerakan kultural tersebut dikenal dengan nama Rena issance , yang berarti kelahiran kembali. Secara khusus, setelah mempelajari Modul 1 ini Anda diharapkan dapat: S PENDAHULUAN

PAGE – 2 ============
1. 2 Sejarah Pemikiran Modern 1. memahami dinamika pemikiran sebelum masa mod ern yang ikut membentuk dan me nen tukan sejarah pemikiran modern; 2. menjelaskan awal munculnya pemikiran – pemikiran filsuf dalam memberikan reaksi terhadap mitos – mitos yang dipercaya oleh masyarakat; 3. menjelaskan pengaruh sistem sosial – politik terhadap hasil – hasil pemikiran para filsuf, terutama pada masa Abad Tengah; 4. menjelaskan tentang penti ngnya kebebasan berpikir bagi manusia dalam menemukan kebenaran dan mengembangkan pengetahuan seperti dibangkitkan kembali oleh gerakan Renaissance .

PAGE – 3 ============
BING4324 /MODUL 1 1. 3 Kegiatan Belajar 1 Dinamika Pemikiran pada Masa Yunani Kuno ejarah pemikiran dimulai sekitar Aba d VI sebelum masehi. Walaupun kita tidak dapat mengharap kepastian tahun, bulan, dan tanggal berapa pemikiran – pemikiran filsuf mulai muncul, namun yang jelas dapat dipastikan bahwa pemikiran tersebut dimulai dari kota Miletos, sebuah kota di perantauan Yun ani yang terletak di pesisir Asia Kecil. Untuk orang yang mendapat kehormatan untuk digelari sebagai pemikir/filsuf pertama adalah Thales . Sejarah pemikiran dimulai ketika muncul para pemikir/filsuf yang memulai menentang mitos – mitos yang dipercaya dan be rkembang dalam masyarakat. Mereka mulai menanamkan kesadaran pada masyarakat bahwa manusia mempunyai kemampuan akal pikir yang dapat digunakan sebagai alat untuk mencari jawaban terhadap persoalan – persoalan yang dihadapi. Sebelum muncul para filsuf, masyar akat pada waktu itu masih dibelenggu dan percaya pada mitos – mitos sehingga ketika menghadapi persoalan (pertanyaan) dalam kehidupannya jawaban selalu bersumber pada mitos. Pada waktu itu , masyarakat sangat percaya pada mitos – mitos tentang Dewa – Dewi di Olym pus (mitologi Yunani) sehingga ketika manusia pada waktu itu takjub terhadap gejala alam seperti adanya halilintar (geledek) maka orang percaya bahwa saat itu Zeus sedang berburu. Ketika ada pertanyaan mengapa tiba – tiba air banyak jatuh dari langit (hujan) , orang percaya bahwa Dewi – Dewi di Olympus sedang menangis. Para filsuf mulai meletakkan penghormatan terhadap kemampuan akal pikir untuk menemukan dan mengembangkan pengetahuan, serta mendobrak hegemoni dan mendelegitimasi mitologi. Di dalam sejarah pemik iran sering diadakan periodisasi atau pentahapan, sebagai berikut . 1. Tahap pemikiran Yunani Kuno (berlangsung Abad VI SM sampai Abad V) . 2. Tahap pemikiran Abad Tengah (berlangsung dari Abad V sampai Abad XV) . 3. Tahap pemikiran Modern (berlangsung sejak Renaissance Abad XV sampai sekarang. S

PAGE – 4 ============
1. 4 Sejarah Pemikiran Modern Sama halnya dengan dimulainya sejarah pemikiran maka mulai dan berakhirnya setiap tahap pemikiran pun tidak dapat ditetapkan secara pasti tanggal, bulan, dan tahunnya. Batas yang ada pada setiap tahap hanya berda sarkan sifat dan corak pemikiran itu sendiri. Pada tahap pemikiran Yunani Kuno, para ahli pikir (filsuf) sudah mulai menggunakan logos atau akal pikirnya dalam usaha menemukan jawab terhadap pertanyaan – pertanyaan yang dihadapi. Mereka tidak puas lagi terha dap jawaban – jawaban yang hanya berdasar mitos saja seperti dilakukan oleh masyarakat Pra – Yunani Kuno. Pada awal tahap Yunani Kuno yang muncul adalah para filsuf alam . Disebut filsuf alam karena mereka memusatkan perhatiannya pada alam semesta. Alam semesta menjadi objek yang pertama kali direnungkan oleh para filsuf tersebut. Mereka berusaha menjawab teka – teki mengenai alam ini dan peristiwa yang ada di dalamnya. Oleh karenanya, kosmologi atau filsafat alam merupakan bidang filsafat tertua. Perdebatan pemik iran yang pertama kali muncul adalah mengenai , yang dalam bahasa Yunani berarti mula atau asal, dari alam semesta. Mereka berusaha mencari jawaban mengenai inti sari atau unsur yang paling hakiki dari alam. Bagi mereka mungkin yang beraneka ragam d alam alam ini dapat dikembalikan (dapat diasalkan, bersumber) pada yang satu sebagai intinya. Adapun para fi lsuf alam tersebut antara lain berikut ini. 1 . Thales (±625 545) Ia berpendapat bahwa dasar pertama atau inti sari alam adalah air . Ia menyampaikan penalaran bahwa semua yang ada dan hidup dalam alam semesta ini memerlukan makan (yang di dalamnya mengandung asas kebasahan atau air) sehingga tanpa air semua yang ada dalam alam akan musnah, yang berarti alam menjadi tidak ada. Jadi, air merupakan unsur yang paling hakiki bagi alam. 2 . Anaximenes (±538 480) Ia berpandangan bahwa arche alam adalah udara . Ia menalar bahwa semua yang ada dan hidup dalam alam membutuhkan udara sehingga tanpa udara semua yang ada dalam alam akan musnah, yang berarti alam tid ak ada. Jadi, unsur yang paling fundamental dari alam adalah udara.

PAGE – 5 ============
BING4324 /MODUL 1 1. 5 3 . Anaximander (±610 510) Ia berpendapat bahwa unsur hakiki dari alam adalah apeiron . Apeiron adalah zat yang tidak tertentu sifatnya, yang kekal dan tak berwujud. Ia menyampaikan pena laran bahwa karena asas pertama adalah asas yang menimbulkan segala sesuatu maka asas itu haruslah hal yang lebih dalam dari pada unsur yang menyusun alam. Asas itu adalah sesuatu yang tidak terbatas dan tidak memiliki sifat – sifat benda yang dikenal manusi a. Konsep ini mirip dengan konsep Tuhan yang dibawakan oleh agama – agama yang di kemudian hari bermunculan. 4 . Phytagoras ( ±580 500 SM) Ia berpendapat bahwa unsur hakiki dari alam adalah bilangan. Ia berargumentasi bahwa semua yang ada dalam alam ini bisa dihitung sehingga tanpa bilangan orang tidak memahami realitas dalam alam ini. Jadi, bilangan merupakan unsur yang fundamental. Dengan perdebatan para filsuf pada awal sejarah pemikiran ini, pemahaman yang bisa kita petik adalah bahwa ketika manusia berus aha mencari jawab an atas persoalan yang mereka hadapi dengan menggunakan kemampuan akal pikirnya maka satu persoalan bisa memunculkan banyak jawaban, atau memunculkan adanya perdebatan. Perdebatan pada awal masa Yunani Kuno yang paling berpengaruh terhadap perdebatan pemikiran para filsuf pada masa – masa berikutnya adalah perdebatan antara Parmenides dan Herakleitos . Mereka memperdebatkan mengenai kualitas dari seluruh kenyataan. Apakah seluruh kenyataan ini hakikatnya bersifat tetap atau berubah? Problem f ilosofis ini di dalam khasanah filsafat disebut problem permanensi dan perubahan. Di satu pihak Herakleitos, seorang filsuf Yunani dari Ephesos, berpandangan bahwa segala realitas selalu berubah. Herakleitos menolak permanensi. Baginya, tidak ada sesuatu p un yang benar – benar berada, sebab terus – menerus , bergerak secara abadi. Segala sesuatu berlalu dan tiada sesuatu yang tetap. Perubahan terjadi dengan tiada hentinya. Satu – satunya realitas ada itu sendiri. Ucapan terkenal dari Herakleitos adalah , artinya semuanya serba mengalir. Sebagaimana air sungai senantiasa mengalir terus, demikian pula dalam dunia jasmani tidak ada sesuatu pun yang tetap. Segala sesuatu dalam alam ada dalam perubahan terus – menerus. Herakleitos

PAGE – 6 ============
1. 6 Sejarah Pemikiran Modern memberikan ilustrasi untuk memperkuat pandangannya itu dengan menggambarkan bahwa tidak seorang pun pernah mampu meloncat dua kali pada sungai yang s ama. Pandangan Herakleitos, seperti halnya semua pemikiran filsafati, tidak luput dari berbagai kritik. Bahkan seorang muridnya, Cratylus , mengkritik bahwa jika segala sesuatu berubah, termasuk kata – kata yang dipergunakan manusia dan makna – makna yang dikan dung dalam kata – kata itu selalu ada dalam perubahan maka manusia tidak dapat mempunyai bahasa yang tetap, yang menggambarkan dunia di mana manusia hidup. Jika segala sesuatu terus – menerus berubah, seseorang tidak dapat mendiskusikan sesuatu, sebab sekali p embicaraan berakhir, pembicara, kata – kata, makna – makna, dan pe ndengar, semuanya telah berubah . Di lain pihak, Parmenides, seorang filsuf Yunani dari Elea, mengajarkan bahwa pada hakikatnya seluruh kenyataan ini bersifat tetap. Parmenides menolak adanya per ubahan, sebab perubahan adalah semu. Parmenides berpandangan bahwa kenyataan bukanlah gerak dan perubahan, melainkan keseluruhan yang bersatu, tidak bergerak dan tidak berubah. Parmenides Herak leitos mempercayai kebenaran pengetahuan yang diperoleh oleh indra (tidak ada yang tetap) maka Parmenides berpandangan bahwa pengetahuan indrawi adalah pengetahuan semu belaka. Kenyataan yang benar hanya dapat diketahui dengan akal , bukan d engan pengamatan indrawi. Atas dasar pandangan itu, Parmenides sering dikatakan sebagai filsuf pertama yang memprakti k dalilnya yang terken al, yaitu Jadi segalanya bersifat tetap, tidak ada perubahan. Bahkan Zeno , murid Parmenides dari Elea, memantapkan ajaran gurunya dan berpikir lebih jauh, bahwa konsep perubahan itu sendiri adalah tidak mungkin. Gerak adalah khayalan. Banyak usaha untuk menjelaskan perubahan atau gerakan akan membawa kontradiksi – kont r adiksi. Zeno membuktikan bahwa gerakan atau perubahan itu tidak mungkin terjadi atau khayalan belaka. Zeno memaparkan paradoks terkenalnya m engenai Akhilles, pelari termas y hur Yunani, yang tidak pernah dapat mengejar seekor kura – kura yang berjalan di mukanya dengan jarak tertentu. Setelah perdebatan pemikiran – pemikiran pada awal masa Yunani Kuno yang objeknya masih terbatas pada alam dan reali tas seutuhnya maka pada puncak pemikiran masa Yunani Kuno objek pemikiran dan bahasan sudah

PAGE – 8 ============
1. 8 Sejarah Pemikiran Modern Pemikiran Plato tersebut menunjukkan bahwa Plato berusaha mendamaikan pertentangan pemikiran Herakleitos dan Parmenides. Plato menegaskan, bahwa baik pandangan Herakleitos maupun Parmenides diakui mengandung kebenaran, dalam arti, keduanya tidak dapat disangkal sepenuhnya. Di satu pihak, harus diakui bahwa ada kenyataan yang serba berubah, seperti dikemukakan Herakleitos, namun itu hanya tentang dunia indrawi saja. Di lain p ihak, ada pula kenyataan yang tetap dan tidak berubah, seperti dikemukakan Parmenides, tetapi itu hanya tentang dunia idea saja. Plato menerima adanya realitas yang tetap dengan mengajukan konsep dunia idea , namun Plato juga menerima adanya realitas yang berubah akan tetapi hanya merupakan bayang – bayang atau proyeksi saja dari dunia idea . Plato juga menjawab masalah; apakah kedua dunia itu senyatanya? Di manakah letak kenyataan sebenarnya? Jawaban – jawaban terhadap pertanyaan inilah, yang menjadikan Plato d ianggap sebagai metafisikus pertama tradisi Barat. Plato berpandangan bahwa idea – idea merupakan model pertama dari setiap objek dan pengertian dunia indrawi manusia. Dunia idea lah yang utama bagi Plato karena idea itu adanya lebih dahulu dari pada dunia pe ngalaman atau indrawi dan menjadi model dari dunia pengalaman. Dari uraian di atas menunjukkan bahwa Plato memandang persoalan permanensi dan perubahan itu dari segi keberadaan manusia. Plato menegaskan bahwa yang serba berubah itu memang ada dan dikenal oleh pengamatan indrawi, sedangkan yang tidak berubah atau permanen, yaitu idea – idea realitas, yaitu bentuk yang dapat diamati, yang senantiasa berubah, dan bentuk yang tidak dapat diamati, yang tidak berubah. Hubungan kedua bentuk realitas itu bahwa yang tampak merupakan pengungkapan dari yang tidak tampak. Bahkan Plato menyelesaikan suatu revolusi metafisik dengan atau dunia yang berubah tidak memuaskan sebagai objek pengetahuan. Plato berpikir bahwa pengetahuan yang asli adalah pengetahuan tentang sesuatu yang tidak dapat berubah, harus mempunyai bagi objeknya sesuatu yang tidak berubah, sesuatu yang berbeda dengan

PAGE – 9 ============
BING4324 /MODUL 1 1. 9 B. PEMIKIRAN ARISTOTELE S (384 322 SM) 1 . Prinsip Dasar Pemikiran Aristoteles Aristoteles, seperti halnya Plato, berusaha mendamaikan dan mengatasi pertentangan pemik iran Herakleitos dan Parmenides tentang kualitas yang dunia indrawi yang serba berubah, yang satu per satu dan konkret, sebagai realitas utama. Dunia idea terbentuk dari realitas indrawi yang bermacam – macam. Realitas yang berubah inilah yang merupakan realitas sejati. Bagi ousia dalam arti sebenarnya hanya dimiliki oleh benda – benda konkret. Menurut Aristoteles, yang sungguh – sungguh ada bukanlah yang umum karena yan g umum itu hanyalah nama atau sebutan belaka. Contohnya, tentang manusia; yang sejatinya ada itu si Joko, Bambang, Parti, Endang, Prapto, dan seterusnya, yang satu per satu real, individual, berbeda dan bermacam – macam ; sedangkan kemanusiaan ( idea , yang umu m) itu hanya abstraksi saja, tidak real , dan hanya ada di dalam pikiran saja. Bagi Aristoteles, di luar benda – benda yang konkret, dan di sampingnya, bersifat umum dan tetap terdapat di dalam benda – benda konkret dan bersama – sama dengan benda yang konkret itu. Jelaslah, bahwa pemikiran filosofis Aristoteles pertama – tama diarahkan kepada dunia empirik. 2. Materi dan Bentuk Atas pengakuan adanya b ermacam – macam yang serba berubah dan uns ur kesatuan yang bersifat tetap atau permanen, Aristoteles menampilkan teori hylemorfisme . Hylemorfisme secara etimilogis berasal dari bahasa Yunani hyle , yang berarti materi, dan morphe , yang berarti bentuk. Hyle adalah unsur yang menjadi dasar keragaman dan perubahan, sedangkan morphe adalah unsur kesatuan dan permanensi. Hyle dan morphe merupakan kesatuan pada benda konkret sehingga tak ada hyle tanpa morphe , dan sebaliknya. Berkat hyle – nya sesuatu itu mempunyai identitas (benda itu adalah benda itulah, bukan benda yang lain), sedangkan berkat morphe – nya mempunyai inti yang merupakan kesatuan dari keragaman sesuatu dan dapat dipahami oleh akal budi. Morphe yang dikemukakan oleh Aristoteles ini nampaknya boleh dianggap sebagai idea – idea , ala Plato, yang su dah pindah ke benda – benda konkret.

PAGE – 10 ============
1. 10 Sejarah Pemikiran Modern Aristoteles mengajarkan bahwa setiap benda jasmani mempunyai bentuk dan materi yang bukan hanya dapat terlihat, melainkan bentuk dan materi sebagai prinsip – prinsip metafisik. Materi adalah prinsip yang sama sekali tidak d itentukan atau terbuka. Materi adalah kemungkinan belaka untuk menerima suatu bentuk. Bentuk adalah prinsip yang menentukan jenis benda itu, yang menjadikan benda konkret itu disebut demikian , misal meja, kursi . Aristoteles menyampaikan bahwa bentuk adalah bersifat imanen. Materi pada dirinya, artinya lepas dari segala bentuk, tidaklah memiliki kenyataan, bukan hal yang berdiri sendiri. Materi adalah kenyataan yang belum terwujud, yang belum ditentukan, akan tetapi yang memiliki potensi untuk menjadi terwuj ud atau ditentukan oleh bentuk. Sekalipun materi baru menjadi nyata apabila dibentuk, namun materi tidak pasif , artinya ada gerak. Setiap benda yang telah berbentuk dapat juga menjadi materi bagi bentuk yang lain sehingga setiap realitas mengalami perubaha n. Pandangan tentang adanya perubahan ini bukan hanya berlaku bagi benda – benda hasil buatan manusia, melainkan berlaku juga bagi hal – hal alamiah yang mengandung asas perkembangan di dalamnya, yang memiliki sumber gerak dalam dirinya sendiri. 3 . Konsepsi Aristoteles tentang Perubahan Gambaran mengenai adanya gerak dan perubahan pada semua realitas, menurut Aristoteles, tercermin pada hubungan antara aktus dan potensi. Aristoteles memandang bahwa persoalan aktus dan potensi berkisar seputar soal mempertangg ungjawabkan adanya perubahan tanpa mengecualikan prinsip identitas. Pote nsi adalah dasar kemungkinan (di sebagai kemungkinan sehingga pada dirinya bukanlah sesuatu walaupun dapat menjadi sesuatu dan senantiasa cenderung men jadi ada secara terwujud. Potensi yang dimaksud adalah potensi sebagai kemampuan real subjek yang dapat berubah. Subjek sendiri yang berubah dari dalam. Bukan kemungkinan murni logis atau kemungkinan objektif, seperti batu yang dapat dipindahkan atau pohon yang dapat dipotong. Aktus adalah dasar kesungguhan ( energia kenyataan objek seperti adanya atau eksistensi sesuatu. Barang sesuatu mungkin karena potensinya dan ia sungguh nyata ada karena aktusnya. Arist oteles menegaskan bahwa yang ada mempunyai potensi untuk berubah.

PAGE – 11 ============
BING4324 /MODUL 1 1. 11 Hubungan antara potensi dan aktus secara hakiki bersifat dapat dibedakan, tetapi tidak dapat dipisahkan. Pada hal kon kret hyle merupakan potensi (di namik), sedangkan morphe merupakan aktus ( energia ). Hyle atau potensi menyebabkan ada keragaman dan perubahan. Hanya sesuatu yang ber hyle mengalami perubahan. Adanya perubahan disebabkan adanya potensi, sedangkan potensi selalu ada pada hal yang berubah. Aristoteles mendefinisikan perubahan atau g erak sebagai gerak semestinya mewujudkan suatu perubahan dari apa yang ada sebagai potensi ke apa yang ada secara berujud. Hanya sesuatu yang tidak ber hyle adalah tidak berpotensi, yang tidak mengalami perubahan, tetap , dan abadi. Sesuatu yang tidak ber hyle inilah yang disebut aktus murni ( actus purus ). Di samping apa yang ada secara terwujud dari dirinya sendi ri tidak dapat mengusahakan perubahannya. Untuk itu, diperlukan adanya suatu penggerak yang pada dirinya sendiri telah memiliki kesempurnaan, yang tidak perlu disempurnakan. Penggerak pertama yang tidak digerakkan oleh penggerak yang lain ( unmoved mover ) t entu tidak berasal dari dalam dunia. Sebab, di dalam jagat raya ini setiap gerak digerakkan oleh sesuatu yang lain. Tujuan gerak segala badan jagat raya itu bukan untuk mencapai kesempurnaan, tetapi untuk menuju kepada Unmoved mover , yang merupakan bentuk atau aktus murni. Menurut Aristoteles, the unmoved mover menyebabkan gerakan tanpa dirinya sendiri bergerak. The unmoved mover menyajikan batas pada serangkaian sebab tak berakhir dari dunia. Pergerakan sendiri, menurut Aristoteles, selalu menunjukkan sesu atu kekurangan dan ketidaksempurnaan. 4 . Unsur Mutlak yang Tetap dan Unsur Nisbi yang Berubah Aristoteles, di dalam mengulas dasar – dasar filsafat dari realitas, menerima realitas partikular atau individual, yang bersifat terbatas dan mengalami peruba han, ke dalam struktur substansi – aksidensi. Ia menjelaskan, bahwa di dalam kenyataan terkandung 2 unsur, yaitu realitas yang mempunyai keberadaannya sendiri dan realitas yang mempunyai keberadaan tetapi bukan pada dirinya sendiri , tetapi tergantung pada ya ng lain. Kenyataan pertama disebut substansi dan kenyataan kedua disebut aksidens i. Substansi adalah inseitas (dalam dirinya) dan perseitas (melalui dirinya), sedangkan aksidensi adalah in – alietas (pada yang lain), yang tergantung pada yang lain. Substans i dan aksidensi mempunyai hubungan yang erat, yang

58 KB – 38 Pages