by A Abi Aufa · Cited by 9 — MEMAKNAI KEMATIAN DALAM UPACARA KEMATIAN DI JAWA. Ari Abi Aufa, M.Phil. IAI Sunan Giri Bojonegoro, Indonesia. Email: ari_abiaufa@yahoo.
11 pages

132 KB – 11 Pages

PAGE – 1 ============
Ari Abi Aufa 1 AN-NAS: Jurnal Humaniora. Vol. 1, No.1, 2017 MEMAKNAI KEMATIAN DALAM UPACARA KEMATIAN DI JAWA Ari Abi Aufa, M.Phil IAI Sunan Giri Bojonegoro, Indonesia Email: ari_abiaufa@yahoo.com Abstract: Javaneese culture adopts and mixes customs from some religions and local beliefs, such as Hinduism, Buddhism, and Islam. Funeral customs may vary across cultures and religions, but there is something common, a ceremony. Fune rary customs comprise the complex of beliefs and practices used by a cul ture to remember and respect the dead, from interment itself, to various monuments, prayer s, and rituals undertaken in their honor. Additionally, funerals often have religious aspects which are intended to help the soul of the deceased reach the afterli fe. Thus, death is concieved as something terrifying at one side and something waited for at the other side. To respect the moment, people gather and pray for the death and for themselves. The ceremony, i.e. the feast, gave benefecial effec ts in their social life, creating harmony and solidarity between the members of the community. So, for Javaneese, to show that death has meanings, they create and adopts customs, and practice it whenever such event emerge. Keyword: Kematian, Upacara, Jawa Pendahuluan Teori konsensus menyatakan bahwa aturan-aturan kebudayaan suatu masyarakat, a tau struktur, menentukan perilaku anggotanya, menyalurkan tindakan-tindakan mereka deng an cara-cara tertentu yang mungkin berbeda, atau sama, dengan masyarakat l ainnya. Suatu tradisi yang dijalankan suatu masyarakat, berdasar teori ini, merupakan hasil kese pakatan bersama anggota masyarakat itu yang diambil berdasar lingkungan dan pertimbangan mas yarakat itu sendiri. Ritual kematian, dalam tradisi Jawa, merupakan bentuk penghormatan yang diberi kan oleh yang hidup terhadap yang mati, diiringi dengan doa-doa untuk kebaikan sang j enazah sekaligus pengingat bagi yang hidup bahwa suatu saat akan mengikuti j ejaknya. Ritual ini biasanya berlangsung selama beberapa hari dan terus dilakukan dalam dura si beberapa tahun setelahnya. Kematian selalu bersifat individual, namun memiliki akibat yang bersifat sosial atau individual kolektif. Upacara kematian selalu melibatkan masyarakat. T idak ada ritual upacara kematian yang dilakukan secara individual. Ritual ini umumnya memili ki ciri yang serupa, yaitu berkumpul, berdoa dan makan. Solidaritas yang menjadi karakter orang Jawa tampak begitu mewarnai tradisi ini. Kegemaran berkumpul, baik dalam acara suka maupun duka, menampilkan jati diri orang Jawa. Individualistik adalah hal yang tidak disukai dalam An-Nas; jurnal humaniora Volume 1, Nomor 1, Februari 2017; ISSN:

PAGE – 2 ============
Memaknai Kematian AN-NAS: Jurnal Humaniora. Vol. 1, No.1, 2017 2 masyarakat Jawa, maka masyarakat Jawa begitu banyak memiliki tradisi kumpul bersama untuk memperingati atau merayakan peristiwa tertentu. Kematian, sebagaimana karakter ritual lainnya, tidaklah dipandang s ebagai sekedar peristiwa individual. Kematian dianggap sebagai sebuah peristiwa pent ing yang mempengaruhi semua yang hidup. Dalam tradisi Jawa, kematian dianggap sebagai pintu masuk ke dalam kehidupan akhirat di mana seseorang akan mempertanggungjawabkan seluruh perbuat an selama hidupnya di dunia. Kematian merupakan pintu masuk perjumpaannya denga n Tuhannya, dalam keadaan diridhoi atau dimurkai-Nya. Sehingga, dalam Jawa, ses eorang yang meninggal mendapatkan perhatian yang sangat tinggi. Akhir-akhir ini muncul praktek ritual baru dalam masyarakat Jawa, teruta ma yang bergama Islam, yang menganggap bahwa kematian merupakan proses alamia h, dan jasad orang seseorang meninggal, maka arwahnya, beserta amal perbuatannya, langsung mas uk ke alam lain, yaitu alam barzah, untuk mempertanggungjawabkan amal perbuatannya, s ementara tubuh yang ditinggalkannya sama sekali tidak penting, yang akan segera membusuk dan menimbulkan pencemaran udara maka tubuh itu harus segera dikubur. Kelompok inipun tidak melakukan ritual keagamaan sama sekali sebagai bentuk pemaknaan t erhadap kematian. Tradisi ini awalnya berkembang di negara-negara Arab yang dikenal deng an istilah gerakan Wahabi dan mulai menggeser tradisi upacara kematian di Jawa. Makna Kematian dalam Tradisi Jawa Lapisan dasar budaya Jawa serimg pula disebut dengan istilah kejawe n, yang memuat teologi, falsafah hidup, kosmologi, metafisika dan antropologi. Kejawen bukanlah agama, sekalipun memiliki ritual tertentu yang menjadi khas kepercayaan i ni, termasuk di dalamnya adalah ritual upacara kematian. Kematian di dalam kebudayaan apa pun hampir selalu disikapi dengan ritualisasi. Ada berbagai alasan mengapa kematian disikapi dengan ritualisasi, sala h satunya adalah kepercayaan Jawa menganggap kematian juga dianggap bukan sebagai bentuk akhir atau titik lenyap dari kehidupan . Peristiwa kematian juga ditangkap dengan sudut pandang dan pengertian yang berbeda-beda oleh setiap orang, seperti ketakutan, kecema san, pasrah, atau keikhlasan. Neils Mulder, Agama, Hidup Sehari-hari dan Perubahan Budaya Jawa, Muangt hai dan Filipina , Jakarta: Gramedia, 1999, hal. 51

PAGE – 3 ============
Ari Abi Aufa 3 AN-NAS: Jurnal Humaniora. Vol. 1, No.1, 2017 Orang Jawa memandang kematian bukan sebagai peralihan status baru bagi orang yang mati. Orang yang mati diangkat lebih tinggi dibandingkan dengan orang-orang yang masih hidup. Segala status yang disandan kehidupan luhur. Makna kematian di kalangan orang Jawa mengacu pada pengerti an kembali ke asal mula keberadaan, sangkan paraning dumadi . Kematian dalam kebudayaan Jawa hampir selalu disikapi bukan sesua tu yang selesai, ditinggal mati. Setelah orang mati, maka ada penguburan yang disertai doa-doa, sesajian, selamatan, pembagian waris, pelunasan hutang, dan seterusny a. Kematian dalam masyarakat Jawa juga melahirkan apa yang disebut ziarah atau tilik kubur. Hal ini semakin menegaskan bahwa kematian bukanlah akhir dari se galanya. Ikatan antara si mati dan yang hidup dipertautkan kembali lewat aktivitas ziarah kubur. Tradisi ini secara tersirat juga menimbulkan sebuah pengharapan bagi yang masih hidup bahwa yang telah mati, yang telah berada di dunia sana dapat menyalurkan berkah dan pangestu ke pada yang masih hidup. Hal ini dipandang dapat menjadi salah satu faktor keberhasilan ba gi kehidupan orang yang telah ditinggalkan si mati. Baik keberhasilan material maupun spiritua l. Kematian adalah sebuah misteri yang tidak dapat diungkapkan dan tid ak terelakkan. Fenomena ini hanya bisa dibicarakan dalam skala iman atau kepercayaa n. Masyarakat Jawa dalam pengertian ini dapat dilihat juga mempercayai adanya dunia lain sesudah mat i. Upacara Kematian Jawa Doa bersama, dalam tradisi Jawa sering disebut dengan slametan, ri tus pokok untuk mempertahankan, menjaga tatanan . Tujuan slametan adalah untuk mendapatkan keselamatan, yang berarti situasi di mana peristiwa akan melalui jalan yang telah ditentukan dengan lancar dan tidak ada seseatu pun yang terjadi pada siapapun . Ritual tahlilan atau selamatan kematian ini sudah mengakar dan me njadi budaya pada masyarakat jawa yang sangat berpegang teguh pada adat istiadatnya . Tradisi selamatan kematian atau tahlilan ini didasarkan pada konsep ajaran-ajaran yang dikembangkan wali songo. Akulturasi budaya Islam Arab Hindu Buddha Jawa membuat ajaran Islam yang datan g lebih akhir dapat diterima dengan baik oleh masyarakat Jawa. Termasuk da lam hal upacara Andrew Beatty, Variasi Agama di Jawa, Suatu Pendekatan Antropologi , Jakarta: Murai Kencana, 2001, hal. 219 Neils Mulder, Agama .hal. 58 Koentjaraningrat, Kebudayaan Jawa , Jakarta: Balai Pustaka, 1984, hal. 95

PAGE – 4 ============
Memaknai Kematian AN-NAS: Jurnal Humaniora. Vol. 1, No.1, 2017 4 kematian. Awal mula dari acara Selamatan atau tahlilan terse but berasal dari upacara peribadatan (selamatan) nenek moyang bangsa Indonesia yang mayoritasnya beraga ma Hindu dan Buddha telah meninggalkan dunia. Ketika tradisi ini dilanjutkan oleh penganut Islam, maka bacaan selama prosesi itu diubah dengan kalimat-kalimat suci Islam. Mantra diganti tasbih, tahli, tahmid, ayat-ayat Quran dan sebagainya. Secara garis besar, prosesi selametan kematian terdiri dari delapan kegiatan: 1. Geblag atau selamatan setelah penguburan 2. Nelung dina atau selamatan setelah tiga hari kematian 3. Mitung dina atau selamatan setelah tujuh hari kematian 4. Matangpuluh dina atau selamatan setelah 40 hari kematian 5. Nyatus dina atau selamatan setelah 100 hari kematian 6. Mendhak sepisan atau selamatan setelah satu tahun kematian 7. Mendhak pindho atau selamatan setelah dua tahun kematian 8. Nyewu atau selamatan setelah seribu hari kematian Selain penentuan hari, ada beberapa simbol dalam upacara kematian yan g mempunyai makna khusus, terutama berupa peringatan bagi yang hidup agar menjadi pelaja ran, seperti menyisipkan gaman (pisau) dikeranda jenasah yang memiliki arti gowo im an (membawa iman). Selain itu, masih banyak simbol-simbol lain yang yang menunjukkan doa bagi mayit dan pengingat bagi yang hidup . Clfford Geertz menyatakan bahwa kondisi harmoni merupakan dambaan setiap orang Jawa, harmoni dengan sesama manusia, dengan alam dan dengan Tuhannya. La ngkah untuk mencapai keselamatan yang selalu ditempuh adalah menjaga kesat uan kekuatan makhluk astral, yakni bahwa dalam rangkaian kosmos itu dihuni oleh makhluk-makhluk hal us seperti roh leluhur, jin, lelembut, dan sebagainya. Upaya ini menggambarkan bahwa seba gian masyarakat Jawa percaya bahwa roh orang yang telah mati itu masih “hidup” di alam semesta . Tradisi selamatan kematian sangat mungkin merupakan hasil akumulasi ke percayaan masyarakat Jawa dengan kepereayaan lain, seperti adanya pengaruh Hindu, Buda , dan Islam. Andrew Beatty, Variasi hal. 90 Thomas Wiyasa Bratawidjaja., Mengungkap Dan Mengenal Budaya Jawa , Yogyakarta: Pustaka, 1997, hal 136 Sujamto, Wayang & budaya Jawa , Semarang: Dahara Prize, 1992, hal. 71 Clifford Geertz, Santri Abangan Priyayi , Jakarta: Pustaka Jaya, 1989, hal. 416

PAGE – 5 ============
Ari Abi Aufa 5 AN-NAS: Jurnal Humaniora. Vol. 1, No.1, 2017 Akibat dari pembauran kepereayaan ini dinamakan sinkretisme Jawa . Hal ini seperti halnya juga dikemukakan Geertz bahwa di Jawa sering terjadi manifestasi Islam sinkretik, sepert i mempertahankan ritual-ritual Jawa yang dikolaborasikan dengan ajaran Islam . Kematian dalam Perspektif Filsafat Kematian merupakan premis mayor yang pasti dilalui oleh manusia dan seluruh makhluk hidup lainnya. Semua yang hidup meyakini dirinya akan mengalami kema tian. Sekalipun begitu, ternyata banyak yang berusaha menghindari kematian dan mengoptimalkan segala potensi yang dimilikinya untuk hidup lebih lama. Hal ini sungguh m erupakan sebuah ironi ketika kematian yang merupakan wujud lain dari kehidupan menjadi musuh yang paling ditakuti, sementara kehidupan sendiri belum menjanjikan kebahagiaan dan keda maian yang sesungguhnya. Sangat mungkin orang akan merasakan kebagiaan dan kedamaia n yang sempurna justru setelah ia melewati kematian, sebagaiamana yang dijelas kan oleh agamawan. merupakan jawaban dari begitu diyakini pasti terjadi pada seseorang sekalipun orang itu sama s ekali belum pernah mengalaminya. Manusia bekerja pada dasarnya karena manusia takut mati . Hal ini dapat ditelusuri dalam analogi relasi tuan budak Hegel. Rasa takut terhada p kematian dalam nalar Hegelian disebut sebagai tuan yang absolut. Budak melayani tuan ka rena budak begitu takut terhadap tuan yang absolut, kematian. Untuk bertahan hidup, budak harus melakukan apa saj a untuk melayani tuannya . Sebagian manusia, mungkin yang terbesar, begitu takut terhadap kematian bukan pada kematiannya itu sendiri, tapi pada proses menuju mati yang digambarkan se bagai rasa sakit yang sangat luar biasa, sementara yang lain merasa takut pada apa yang akan dihadapinya setelah kematian. Bagi orang yang menyakini adanya eskalasi atau resureksi akan mempertimbangkan apa yang akan dirasakannya kelak dengan melihat apa y ang telah dilakukannya selama hidup di dunia ini, sementara orang atheis akan berpi kir nihilistik, bahwa hidupnya akan berakhir setelah kematiannya, dan segala yang dilakukannya di dunia ini tidak akan ada artinya lagi. Orang atheis meyakini bahwa segala yang i a cintai di dunia ini tidak akan didapatkan atau temui lagi setelah orang atheis itu mati. Sujamto, Wayang hal. 13- 15 Clifford Geertz , Santri. hal 529 Clifford Geertz, Santri. ..hal. 416 Budi Hartanto, Tentang Kematian dan Sifat-sifat Jiwa , dalam Jurnal Driyarkara tahun XXVII. No. 2. Hal. 47

PAGE – 6 ============
Memaknai Kematian AN-NAS: Jurnal Humaniora. Vol. 1, No.1, 2017 6 memandang kematian sebagai suatu hal yang tidak dapat dihindari. Sekalipun begit u, manusia tidak boleh memandang kematian sebagai hal yang bernilai. Jika kemati an dianggap bernilai, bila mati sudah menjadi bagian dari institusi manusia, terlepas da ri nilai-nilai etis, maka membunuh orang pun menjadi hal yang wajar dan bahkan dapat dimaknai oleh orang yang akan dibunuh. Inilah konsekuensi makna kematian yang ditolak oleh Canneti . Kematian seringkali menjadi dramatis, apalagi kalau peristiwa it u melibatkan diri sendiri, orang yang dicintai atau orang yang dibutuhkan keberadaannya. Manusia s adar akan kematian sebagai seuatu yang bersifat keniscayaan, tetapi kematian a n sich tetaplah dalam pengalaman manusia yang tetap diliputi aneka pertanyaan: apa itu mati? Apa artinya bagi manusia? Apakah kematian bermakna ketiadaan (nothingness)? Atau kemat ian menjadi satu-satunya jalan menuju bentuk kehidupan baru (life after death)? Kenapa i a begitu ditakuti oleh sebagian besar orang dan begitu diharapkan oleh sebagian kecil lainnya? Bagi sebagian orang, hidup diangap sebagai ironi, karena pada dasarnya sese orang tidak pernah meminta agar dirinya dilahirkan, tetapi begitu seseorang lahir, tum buh, dan mencintai hidupnya, dirinya dihadapkan pada situasi nir pilihan, mati. Otentitas priba dinya sebagai individu yang bisa memilih musnah dihadapan sebuah keniscayaan yang di anggap menakutkan. Mati menjadi momok yang menegasi eksistensi seseorang di dunia ini. Sekalipun menolak, pada akhirnya setiap orang akan sampai pada kesadaran bahwa pilihann ya hanya takluk. Ada beberapa alasan kenapa manusia takut dengan kematian. Pertama, ka rena ingin bersenang-senang dan menikmati hidup ini lebih lama lagi. Kedua, tidak siap berpisa h dengan orang-orang yang dicintai, termasuk harta kekayaan yang telah dikumpulkanny a. Ketiga, tidak tahu keadaan mati seperti apa. Keempat, takut pada dosa-dosa yang te lah dilakukan selama hidup ini . Empat faktor ini menjadikan kematian sebagai keadaan yang sa ngat tidak diharapkan, maka segala upaya dilakukan untuk menundanya terjadi. Namun, jika keempa t hal itu tidak dirasakan atau dimiliki oleh seseorang, maka kematian a kan menjadi hal yang biasa saja. Death and Philosophy , ed. Jeff Malpas dan Robert C. Solomon, New York: Routledge, 1988, hal. 18- 20 Komarudin Hidayat, Psikologi Kematian , Yogyakarta: Hikmah, 2008. Hal. 76

PAGE – 8 ============
Memaknai Kematian AN-NAS: Jurnal Humaniora. Vol. 1, No.1, 2017 8 peristiwa kematian, masyarakat Jawa melakukan ritual tertentu sebaga i bukti penghargaan terhadap yang mati dan peringatan terhadap yang hidup bahwa mereka akan m enjalani hal yang sama. subyek, baik karena terlalu indah atau terlalu buruk. Interest yang bersifat intensional memiliki peran terbesar dalam memberi nilai suatu hal atau peristiwa. Semak in tinggi interest yang diberikan, semakin tinggi pula nilai obyek tersebut. Upacara kematian m enegaskan keagungan peristiwa kematian. Ritual beberapa tahun setelah kematian seseorang. Berbeda dengan Barat, yang mel akukan ritual kematian hanya pada saat pemakaman jenazah, tradisi Jawa menge nal istilah tujuh harian, yaitu acara doa bersama selama tujuh hari penanggalan Jawa setelah kema tian, empat puluh hari, yaitu acara doa bersama empat puluh hari setelah kematian, seratushari , pendhak (setahun setelah kematian) hingga seribu hari setelah kematian. Tradisi in i melibatkan keluarga yang ditinggalkan, teman dan tetangga. Dalam ritual kematian, maka keberni laian kematian dirasakan oleh yang hidup didasarkan pada perasaan kehilangan atas orang yang dicintai. Subjektivisme memahami kebernilaian kematian dengan melihat be berapa hal, yaitu sebelum kematian dan sesudah kematian, makna kematian bagi orang yang menjalani dan bagi yang ditinggalkan. Kematian orthothanasia, kematian karena waktor usia, merupakan peristiwa yang bernilai, baik bagi orang yang akan meninggal maupun terhadap orang yang ditinggalkannya, tetapi porsi lebih dirasakan oleh yang akan menjalani. Keyakinan bahwa dirinya akan segera mati menjadikan kematian sebagai hal yang s angat ditakuti namun tidak dapat berbuat apa-apa untuk mencegahnya. Setelah kematian, keluarga merasakan kesedihan, namun umumnya mereka telah mempersiapkan diri sebelumnya jika suatu saat hal itu terja di. Kematian secara dysthanasia, kematian secara tidak wajar, mem ang memiliki imbas yang lebih terasa bagi keluarga yang ditinggalkan. Kematian ses eorang secara tiba-tiba menimbulkan kesedihan berlebih dalam diri keluarga atau teman. Kesediha n menjadi berlipat ganda karena peristiwa kematian itu terjadi secara mendadak, dan u mumnya terjadi melalui peristiwa yang tidak wajar, kecelakaan misalnya. Maka, kematian dys thanasia memiliki nilai yang sangat besar bagi orang-orang yang hidup karena kesedihan yang munc ul akibat perpisahan mereka dengan orang yang mati. Kematian euthanasia, kematian untuk meringankan derita karena penyakit, m emiliki nilai karena kematian ini adalah jenis kematian yang diharapkan, baik ol eh pasien maupun oleh keluarga berdasar euthanasia jenis mana yang diambil. Kebermaknaan kem atian melalui

PAGE – 9 ============
Ari Abi Aufa 9 AN-NAS: Jurnal Humaniora. Vol. 1, No.1, 2017 euthanasia terletak pada hilangnya harapan kesembuhan dari penyakit yang diderita seorang pasien, sehingga kematian merupakan upaya terakhir mengakhiri derita itu. Ketiga jenis kematian itu memiliki imbas yang sama, yaitu pe rasaan ditinggalkan orang yang dicintai selama-lamanya. Lalu diadakanlah ritual kematian untuk menghormati orangyang meningggal itu. Maka upacara kematian merupakan wujud pemaknaan kemat ian yang dilakukan oleh orang-orang yang hidup atas kematian itu sendiri. Subjektivisme melihat kematian merupakan hal yang bernilai karena bebera pa hal, pertama, yaitu kematian merupakan hal yang sangat ditakuti, terutama oleh yang menjalani karena kecemasan terhadap rasa sakit yang menyertai proses kematia n itu dan kecemasan terhadap apa yang akan terjadi setelah porses kematian itu. Kedua, kema tian merupakan peristiwa yang menyedihkan bagi orang-orang yang ditinggalkan. Ketiga, kematian merupakan peristiwa yang diharapakan karena kematian dianggap sebagai pintu masuk ke dalam dunia yang lebih baik, atau kematian dianggap sebagai pintu keluar meng atasai derita hidup yang dijalani. Ketiga hal ini, dalam perspektif sunyektivisme menega skan kebermaknaan kematian bagi seseorang. Relevansi Upacara Kematian dengan Penumbuhan Nilai-nilai Harmoni Masyar akat Pada saat disharmoni sosial sedang mengalami kejayaan sperti se karang, terutama dengan mencuatnya kasus-kasus kekerasan menggunakan agama, dibutuhkan suatu upaya pemahaman kembali mengenai hakikat hidup. Salah satu cara, dan mungkin yang paling tepat, untuk memahami hidup adalah dengan menghayati kematian. Upacara kematian, menegaskan kebermaknaan mati di satu sisi dan hidup di sisi lainnya. Menghargai kematian adalah dengan menghargai kehidupan, pun berlaku sebaliknya. Ritual upacara kematian, selain menumbuhkan pemahaman yang mendalam tentang makna kehidupan, juga memunculkan rasa solidaritas dan kebersaman dalam masyarakat. Nulai kerukunan bagi warga masyarakat sangat terasa dalam prosesi upcar a kematian. merupakan suatu sikap sosial yang mempunyai makna turut berduka cita terhadap keluarga si mayat atas musibah yang menimpanya. Di samping itu, juga berma kna mengadakan silaturrahmi serta memupuk ikatan persaudaraan antara mereka. Masyarakat yang kehidupan sehari- harinya senantiasa ditandai oleh kebersamaan, kegiatan yang akan dilaksanakan selalu dipertimbangkan secara matang sehingga tidak merasa mengganggu orang l ain dalam bekerja mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya, meskipun pada dasarnya jika ke giatan tersebut dilaksanakan pada pagi atau siang hari orang-orang akan rela meninggalkan pekerjaannya

PAGE – 10 ============
Memaknai Kematian AN-NAS: Jurnal Humaniora. Vol. 1, No.1, 2017 10 tanpa mempertimbangkan keuntungan materi. Perkumpulan di rumah si mayat tida k lain untuk daknya dengan suatu harapan pahala kebaikan yang dilakukan orang banyak itu mampu menghapus si ksa yang akan menimpa si mayat, atau setidaknya bisa mengurangi siksaannya. Mere ka menghadiahkan kepada si mayat karena meyakini bahwa pahala yang ditujukan kepada si m ayat akan sampai kepadanya. Selain itu, upacara kematian juga menumbuhkan sikap kerelaan menolong tet angga yang mengalami musibah. Hal itu bisa, sesaat atau seterusnya, me nghapus permusuhan yang mungkin ada sebelumnya. Tolong-menolong pada peristiwa kematian, biasanya dilakukan oleh seseorang dengan kerelaan, tanpa perhitungan akan mendapat pertolongan kembali , karena menolong orang yang mendapat musibah itu rupa-rupanya berdasarkan rasa bela s ungkawa yang universal dalam jiwa makhluk manusia. Solidaritas yang muncul dalam upacara kematian, pada kelanjutannya akan memunculkan suasana harmoni dalam masyarakat. Daftar Pustaka Beatty, Andrew, 2001, Variasi Agama di Jawa, Suatu Pendekatan Antropologi , Murai Kencana, Jakarta. Bratawijaya, Thomas Wiyasa, 1997, Mengungkap Dan Mengenal Budaya Jawa , Pustaka, Yogyakarta Geertz, Clifford, 1989, Santri Abangan Priyayi , Pustaka Jaya, Jakarta. Hartanto, Budi, Tentang Kematian dan Sifat-sifat Jiwa, dalam Jurnal Driyarkara tahun XXVII. No. 2. Hidayat, Komarudin. 2008. Psikologi Kematian , Hikmah, Yogyakarta. Koentjaraningrat, 1984, Kebudayaan Jawa , Balai Pustaka, Jakarta. Mulder, Niels, 1999, Agama, Hidup Sehari-hari dan Perubahan Budaya Jawa, Muangthai dan Filipina , Gramedia, Jakarta. Ste Death and Philosophy , ed. Jeff Malpas dan Robert C. Solomon, Routledge, New York. Sujamto, 1992, Wayang & budaya Jawa , Dahara Prize, Semarang.

132 KB – 11 Pages