Doclinks.org – Apakah kalian termasuk dalam orang yang tidak mengenal jam dalam bekerja dan sering burnout? Pastikan kalian tahu cara mengatasi burnout kerja agar tidak menghabiskan hidup hanya dengan bekerja.
Di tengah kehidupan yang super cepat ini, banyak Perusahaan yang bersaing untuk bisa jadi Perusahaan paling cepat dan diandalkan.
Tapi sebab hal tersebut, tidak sedikit dari Perusahaan yang menambah beban kerja para pekerjanya sehingga meningkatkan kemungkinan burnout mereka.
Meskipun para pekerja itu tangguh dan dapat diandalkan, tapi dengan beban kerja yang terus bertambah setiap harinya dan mengganggu Kesehatan mental mereka juga buruk.
Untuk lebih jelasnya mengenai burnout, ciri-cirinya dan bagaimana cara mengatsinya, bisa simak uraian di bawah ini sampai habis.
Apa Itu Burnout Sebenarnya?
Jangan keliru menganggap burnout hanya sebagai “lelah biasa”. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi memasukkan burnout ke dalam International Classification of Diseases (ICD-11) bukan sebagai penyakit medis, melainkan sebagai fenomena okupasional.
Menurut riset dari Christina Maslach, pionir dalam penelitian burnout, kondisi ini ditandai oleh tiga dimensi utama:
- Kelelahan Luar Biasa: Rasa terkuras secara fisik dan emosional yang tidak hilang meski sudah tidur lama.
- Sinisme dan Jarak Mental: Mulai merasa negatif, dingin, atau bahkan benci terhadap pekerjaan dan rekan kantor.
- Penurunan Efikasi Profesional: Merasa tidak kompeten dan kehilangan keyakinan bahwa kalian bisa melakukan pekerjaan dengan baik.
Singkatnya, burnout adalah sinyal dari tubuh bahwa beban yang kalian panggul sudah melampaui kapasitas tangki bahan bakar kalian.
BACA JUGA: Manfaat Kesempatan yang Datang dengan Baik! Ramalan Zodiak Cancer Hari Ini, 24 Januari 2026
Cara Mengatasi Burnout Kerja
Mengatasi burnout bukan sekadar mengambil cuti satu hari untuk ke salon atau staycation. Ini adalah tentang menata ulang hubungan kalian dengan pekerjaan. Berikut adalah langkah-langkah yang didukung oleh penelitian psikologi:
1. Praktikkan “Psychological Detachment”
Penelitian dari Sabine Sonnentag menunjukkan bahwa kemampuan untuk melepaskan diri secara psikologis dari pekerjaan saat di luar jam kantor adalah kunci pemulihan.
Artinya, saat jam kerja selesai, berhentilah mengecek email atau memikirkan revisi. Tubuh kalian butuh sinyal tegas bahwa “waktu berburu” sudah selesai dan sekarang adalah “waktu beristirahat”.
2. Lakukan “Job Crafting”
Konsep Job Crafting yang diperkenalkan oleh Amy Wrzesniewski dari Yale University menyarankan kita untuk mengubah cara kita memandang tugas.
Cobalah untuk fokus pada bagian pekerjaan yang paling memberikan makna bagi kalian. Jika kalian merasa terjebak dalam rutinitas yang membosankan, diskusikan dengan atasan untuk mengambil proyek yang lebih sesuai dengan minat kalian, meskipun porsinya kecil.
3. Perkuat Dukungan Sosial
Manusia adalah makhluk sosial. Sebuah studi dalam Journal of Applied Psychology menekankan bahwa dukungan dari rekan kerja atau atasan dapat menjadi “bantalan” yang menahan dampak stres.
Jangan memendam beban sendirian. Kadang, sekadar berbincang jujur dengan teman kantor tentang tekanan yang dirasakan bisa menurunkan kadar kortisol secara signifikan.
4. Batasi Kesempurnaan (Perfectionism)
Seringkali, burnout datang dari standar mustahil yang kita tetapkan untuk diri sendiri. Riset menunjukkan adanya korelasi kuat antara perfeksionisme maladaptif dengan kelelahan emosional.
Belajarlah untuk menerima bahwa “cukup baik” seringkali sudah lebih dari cukup. Jangan biarkan pengejaran kesempurnaan membunuh kesehatan mental kalian.
Demikian tadi cara mengatasi burnout kerja yang bisa kalian terapkan untuk menghasilkan work-life balance.