Doclinks.org – Bagi Ibu yang memiliki balita atau anak dengan usia di bawah 2 tahun, cobain beberapa kegiatan stimulasi anak usia 0-2 tahun agar jadi cerdas di usia dewasa kelak.
Sebagai orang tua, kita pasti ingin memberikan yang terbaik sejak hari pertama mereka lahir ke dunia.
Salah satu kunci utamanya adalah dengan merencanakan kegiatan stimulasi anak usia 0-2 tahun yang tepat, karena pada masa inilah otak anak berkembang dengan sangat pesat.
Mungkin Ayah dan Bunda bertanya-tanya, “Stimulasi seperti apa sih yang sebenarnya dibutuhkan?” Tenang, stimulasi tidak harus mewah atau mahal.
Hal-hal sederhana yang dilakukan dengan penuh cinta justru jauh lebih berdampak. Mari kita bedah bersama panduan stimulasi berdasarkan tahap usianya.
Masa Bayi Baru Lahir (0-6 Bulan): Kehangatan dan Sensorik
Pada rentang usia 0 hingga 3 bulan, bayi lebih banyak berinteraksi melalui sentuhan dan penglihatan jarak dekat.
Ayah dan Bunda bisa mulai dengan sering memeluk, menggendong, dan menatap mata si kecil saat berbicara.
Menggantung benda berwarna cerah atau yang bisa berbunyi di atas tempat tidur juga sangat baik untuk melatih fokus penglihatan mereka.
Memasuki usia 3 hingga 6 bulan, ajaklah si kecil untuk mulai tengkurap (tummy time) guna memperkuat otot leher dan punggungnya.
Anda juga bisa mulai memberikan mainan yang bisa digenggam agar mereka belajar meraih dan memegang benda.
BACA JUGA: Terbukti Secara Ilmiah! 5 Manfaat Minum Jamu Tradisional untuk Kesehatan Menurut Penelitian
Menjelajahi Dunia (6-12 Bulan): Gerak dan Komunikasi
Saat si kecil menginjak usia 6 hingga 9 bulan, mereka biasanya mulai belajar duduk dan merangkak. Stimulasi yang pas adalah dengan meletakkan mainan sedikit jauh dari jangkauannya agar mereka termotivasi untuk bergerak mendekat.
Bermain “cilukba” juga sangat seru karena melatih memori dan pemahaman mereka tentang keberadaan benda.
Jangan kaget jika di usia 9-12 bulan si kecil mulai cerewet. Pentingnya variasi dalam kegiatan stimulasi anak usia 0-2 tahun ini mencakup aspek bahasa, seperti mengajak mereka bercakap-cakap atau membacakan buku cerita bergambar.
Ayah dan Bunda juga bisa melatih mereka berdiri sambil berpegangan atau menggelindingkan bola bersama di lantai.
BACA JUGA: 9 Aktivitas Pagi Hari yang Biasa Dilakukan Orang Sukses yang Bisa Kamu Tiru
Kemandirian Kecil (12-24 Bulan): Kognitif dan Motorik Halus
Setelah melewati ulang tahun pertamanya, si kecil akan menjadi penjelajah yang aktif. Di usia 12-18 bulan, ajaklah mereka mengenal anggota tubuh dengan menunjuk hidung, mata, atau mulut.
Anda juga bisa memberikan krayon untuk mereka belajar mencoret-coret kertas atau menyusun balok-balok mainan.
Mendekati usia 2 tahun (18-24 bulan), stimulasi bisa ditingkatkan ke arah kemandirian dan penyelesaian masalah sederhana.
Ajaklah si kecil untuk belajar mencuci tangan sendiri, menyikat gigi, atau merapikan mainannya.
Bermain peran (seperti masak-masakan) atau menyebutkan nama-nama hewan dan benda di sekitar rumah akan sangat membantu memperkaya kosakata mereka.
BACA JUGA: Mobil Toyota Agya GR Sport 2026, Cek Harganya Rp 1/4 Miliar, Apa Layak Dibeli?
Stimulasi bukan berarti memaksa anak untuk cepat pintar, melainkan memberikan rangsangan yang pas sesuai dengan tahapan perkembangannya.
Kunci utama dari keberhasilan ini adalah konsistensi dan kegembiraan. Saat Ayah dan Bunda melakukan setiap aktivitas dengan ceria, si kecil pun akan merasa aman dan lebih mudah menyerap informasi baru.
Semoga artikel ini membantu Ayah dan Bunda dalam menjalankan rutinitas kegiatan stimulasi anak usia 0-2 tahun dengan sabar dan penuh kasih sayang.
Jangan lupa untuk terus mengikuti pembaruan di doclinks.org untuk informasi kesehatan dan pola asuh lainnya!
Apakah Ayah dan Bunda punya pengalaman unik saat menstimulasi si kecil di rumah? Yuk, bagikan di kolom komentar!