DOCLINKS.ORG – Makan nasi saat sahur selama bulan puasa memang jadi kebiasaan banyak orang. Namun menurut pakar kebugaran Ade Rai, cara makan kalian saat sahur bisa memengaruhi bagaimana tubuh bekerja sepanjang hari puasa.
Dalam pandangan beliau, bukan sekadar ada atau tidaknya nasi, tapi jenis asupan yang kalian pilih saat sahur menentukan stabilitas energi, rasa lapar, dan kemampuan tubuh menjaga performa sepanjang hari.
Apa Masalah dengan makan nasi saat sahur?
Menurut Ade Rai, konsumsi nasi atau karbohidrat sederhana seperti nasi putih di sahur bisa meningkatkan gula darah secara cepat. Ketika gula darah naik drastis, tubuh berupa kita akan kembali turun dengan cepat pula.
Kondisi ini menciptakan pola gula yang naik turun atau roller coaster yang menyebabkan kalian lebih cepat lapar, mudah lemas, dan mood kurang stabil saat puasa.
BACA JUGA: Rincian Bocoran iPhone 18 Pro Max dari Apa Saja yang Baru di Hp Ini hingga Jadwal Rilisnya!
Efeknya terhadap tubuh saat berpuasa tidak selalu seperti yang kita inginkan. Idealnya tubuh yang menahan makan seharian tidak terlalu tergantung pada gula darah cepat yang berasal dari nasi. Dengan sumber energi yang mudah habis, puasa menjadi lebih berat secara fisik.
Strategi sahur sehat menurut Ade Rai
Ade Rai menekankan bahwa sahur bukan sekadar tradisi makan sebelum subuh, tetapi waktu penting untuk menstabilkan energi tubuh hingga berbuka.
Ia menyarankan kalian memilih makanan sahur yang kaya protein, lemak sehat, dan serat daripada mengisi piring dengan nasi.
Protein sebagai fondasi sahur
Telur, ayam, ikan atau daging tanpa lemak adalah sumber protein baik. Protein akan membantu kalian merasa kenyang lebih lama dan memberi energi stabil saat menjalani puasa.
BACA JUGA: Ramalan Shio Tahun Kuda Api 2026, Berikut 7 Shio Ciong yang Bakal Terima Rezeki dan Keberuntungan
1. Lemak sehat sebagai suplai energi
Lemak seperti alpukat, kacang-kacangan, atau minyak sehat membantu tubuh memiliki sumber energi yang lambat dilepas. Ini mengurangi risiko rasa lapar cepat dan membantu tubuh tetap beri tenaga tanpa perlu asupan cepat dari karbohidrat seperti nasi.
2. Serat dari sayuran untuk energi lancar
Sayuran berserat tinggi membantu pencernaan dan menjaga gula darah lebih stabil daripada makanan manis atau nasi putih yang cepat dicerna.
Dengan pola makan sahur seperti ini, tubuh akan lebih mudah beradaptasi untuk memakai lemak sebagai sumber energi utama selama puasa. Cara ini dipercaya membantu tubuh mempertahankan energi lebih baik, menjaga mood, dan membuat puasa terasa lebih ringan.
BACA JUGA: Spesifikasi Lengkap Hp Samsung Galaxy A07 dan Penggunaannya di Tahun 2026, Harganya Rp1,4 Jutaan
3. Makan nasi saat sahur bukan musuh, tapi pilih porsinya
Penting untuk diingat bahwa Ade Rai tidak mengatakan sepenuhnya makan nasi saat sahur itu salah.
Fokusnya adalah mengatur komposisi nutrisi agar energi tubuh lebih stabil dan puasa terasa lebih ringkas. Kuncinya bukan soal pantang nasi sepenuhnya, tetapi memilih porsi dan waktu yang tepat untuk asupan karbohidrat.
Jika kalian tetap memilih makan nasi saat sahur, kombinasikan nasi dengan sumber protein dan lemak sehat, atau pilih nasi yang lebih kaya serat seperti nasi merah atau nasi hitam agar pelepasan energi lebih lambat dan stabil.
Makan nasi saat sahur bukan berlaku sebagai aturan baku yang mutlak, tetapi pemilihan jenis makanan pada sahur sangat menentukan kualitas puasa kalian.
Dengan menekankan asupan protein, lemak sehat, dan serat serta mengurangi karbohidrat berlebih, tubuh mampu menstabilkan gula darah, menjaga energi, dan bahkan memaksimalkan pembakaran lemak selama puasa.
Pendekatan ini membuat kalian lebih ringan menjalani puasanya dan membantu menjaga kesehatan tubuh sepanjang bulan suci.