DOCLINKS.ORG – Banyak orang yang mengira bahwa nasi bisa bikin berat badan naik secara signifikan karena karbohidrat yang dikonsumsi akan diubah menjadi gula di dalam tubuh.
Tapi apakah fakta ini benar adanya? Informasi terkait kesehatan dan gizi ini, direspon oleh guru besar IPB.
Di tengah popularitas diet rendah karbohidrat dan banjir informasi kesehatan di platform media sosial, nasi sering kali disalahkan sebagai penyebab utama kenaikan berat badan serta perut buncit.
Banyak individu memilih untuk menghindari nasi demi mempertahankan postur tubuh mereka. Namun, apakah benar nasi sepenuhnya bertanggung jawab atas kegemukan?
BACA JUGA: Sahur Bikin Berat Badan Melonjak, Ini Tips dan Rekomendasi Menu dari Ahli Agar BB Tetap Terjaga
Prof. Ali Khomsan, seorang ahli di bidang Pangan dan Gizi dari IPB University, membenarkan bahwa pandangan tersebut tidak tepat.
Ia berpendapat bahwa masalah berat badan tidak dapat disederhanakan hanya pada satu tipe makanan saja.
“Mengapa nasi sering dianggap bermasalah? Karena nasi itu enak. Ketika orang makan nasi enak, dia cenderung makan lebih banyak,” ujar Ali dilansir dari IPB.Ac.id.
Ali menekankan bahwa peningkatan berat badan lebih dipengaruhi oleh jumlah makanan yang dikonsumsi, bukan semata-mata dari jenis makanan yang pilih.
Apabila karbohidrat dari sumber lain seperti singkong atau ubi dikonsumsi secara berlebihan, efeknya pun tetap serupa terhadap berat badan.
BACA JUGA: Tunaikan Kewajiban Umat Muslim, Ketahui Berapa Besaran Zakat Fitrah Tahun 2026
“Saya melihatnya bukan semata karena kalorinya, tapi karena kuantitas yang dikonsumsi. Orang makan nasi biasanya jumlahnya lebih banyak,” tuturnya.
Kegemukan Bukan Indikasi Kesehatan
Di samping mitos bahwa nasi menyebabkan kegemukan, Ali juga menyoroti pandangan kuno yang menganggap tubuh yang gemuk sebagai lambang kesehatan dan kesejahteraan.
Ia menyatakan bahwa persepsi ini sudah tidak relevan dengan keadaan kesehatan modern.
“Kalau zaman dulu gemuk dianggap lambing kemakmuran atau kesejahteraan, sekarang kita tidak menyadari bahwa gemuk juga membuat seseorang lebih mudah terekspos penyakit tidak menular,” kata Ali.
Kegemukan adalah faktor risiko yang signifikan untuk berbagai penyakit kronis, seperti hipertensi, diabetes, dan gangguan metabolik lainnya.
“Hipertensi, diabetes, penyakit gula, salah satunya disebabkan oleh faktor risiko penting yaitu kegemukan,” ujarnya.
BACA JUGA: Ibadah Puasa Kamu Sudah Sah atau Belum? Yuk Cek Apa Saja Syarat Sah Puasa yang Ada Dalam Islam
Ini menunjukkan bahwa penilaian kesehatan tidak dapat didasarkan hanya pada penampilan fisik. Indikator yang lebih akurat adalah kesesuaian antara berat badan dan tinggi badan sesuai dengan standar medis.
Anak Berpostur Kecil Belum Tentu Mengalami Stunting
Di sisi lain, kekhawatiran mengenai anak-anak yang bertubuh kecil sering kali menimbulkan kesalahpahaman. Banyak orang tua dengan cepat menganggap anak mereka mengalami stunting hanya karena tampak lebih pendek dibandingkan teman sebayanya.
Ali menegaskan bahwa stunting memiliki ukuran dan indikator yang jelas serta telah terstandar secara medis.
BACA JUGA: Penderita Diabetes Wajib Tahu! 6 Kesalahan Buka Puasa yang Bisa Bikin Gula Darah Melonjak Drastis
“Stunting itu sudah ada ukurannya. Setiap posyandu mengetahui standarnya. Misalnya anak usia lima tahun tingginya hanya 90 cm, maka itu stunting karena indikatornya tinggi badan,” ungkapnya.
Oleh kaerna itu penilaianya lebih objektif dan terukur untuk posyandu memastikan apakah si anak terkena stunting atau tidak.